Rumah orang tuaku dekat dengan hutan, aku tumbuh dengan segala seluk beluk di dalamnya (hutan). Jadi kurasa aku sedikit lebih tau tentang hutan daripada kalian (pengecualian kalau kalian si Bolang). Salah satu hutan di dekat rumahku adalah hutan pinus. Dulu sembari menunggu kambing gembalaanku kenyang, aku menikmati senja dari celah-celah daun jarumnya,Saat angin sore menyapa, mereka saling bergesek, dan alamak, beeh…. Aku rasa akan begitu sulit untuk menemukan keindahan tandingannya. Siapa? bethoven, Kitaro, Maksim, Vanesa Mae, bukan mengecilkan mereka, tapi aku rasa mereka tetap kalah jika jurinya aku.
Satu yang aku kagumi, meski mereka hidup bersama, tak ada yang mengusik sesamanya, mereka indah dalam harmoni, meski akar mereka jutaan, saling menjuntai dan menusuk dalam tanah, tetaplah menemukan sumber kehidupan tanpa saling merobohkan. Demikian juga daun mereka, meski membutuhkan cahaya matahari yang sama, mereka tak berusaha saling menutupi, malah sebaliknya mereka berusaha berusaha membuka celah untuk yang lain.
Dan lebaran kali ini mengingatkanku kembali pada hutan pinus di dekat rumah bapakku. Sehabis khotib Ied mengucapkan salam, maka semua serentak berdiri, Sholawatpun mengalun syahdu dari setiap mulut “Sholallahu ‘ala Muhammad, sholallahu ‘ala wasalam”. Lihatlah semua tersenyum tulus, semua memaafkan, semua begitu bahagia, semua mengagungkan Allah, semuanya merasa setara, hilang sombong, hilang benci, hilang semua beban. Semua seperti kapuk kembang ilalang, melayang-layang dibawa angin. Oh…begitulah Allah yang maha pengasih mengatur segalanya. Dan kini semua telah kembali kepada asal mereka diciptakan; murni, kembali kepada hulu segala kebahagiaan.
Minnal aidzin wal faidzin.
Do’a penutup
Dan jika esok masih Kau buat alam ini semesta ini seimbang, matahari tetap membawa kehidupan bagi kami, maka langgengkan kebahagiaan ini ya Rabb
Buat kebal jiwa kami pada godaan fana dunia, meski itu tak mungkin
Tapi setidaknya selalu ingatkan kami bahwa seperti inilah kebahagiaan yang kami tuju
Amin…