Feeds:
Tulisan
Komentar

Flower’s Family

Ga mau!, pokoknya flower ga mau!”

Astagfirllah flower, sejak kapan flower jadi begini!”

Habisnya Abinya bohong, katanya mau dikasi tau nama-nama rasi bintang sekalian dongengnya!”

Ya Abinya kan sibuk sayang, kalau nanti malam abi ga sibuk flower akan didongengin, ayo sekarang keluar, kita sarapan bareng abi”

kalau ga mau jangan dipaksa! Titik!”

Jadi flower ga mau sekolah!”

Mau tapi ga mau sarapan bareng abi”

ada apa bund?” abi datang

Abi lupa ya?, tadi malam janji sama flower?” bunda berbisik

Astagfirrllah iya” abi menepuk jidatnya

Ya udah, biar sama abi”

Perlahan abi mengetuk pintu pelan

Flower, abi mau minta maaf, buka pintu dong”

Ga mau!, udah 2 kali abi bohong”

Iya sayang, abi ngaku salah, lalu harus dengan cara apa abi minta maaf”

bener ni!” suara flower mulai melunak, matanya berputar2 memikirkan hal jahil untuk balas dendam

Iya tapi buka pintunya dulu, keburu abi telat, flowernya juga telat nanti”

Tapi abi janji dulu, selain nanti sebelum isya abi harus sudah pulang, sekarang abi harus ngelakuin 1 hal buat flower”

Iya flower, abi janji”

Pintu pun di buka flower keluar dengan tersenyum penuh kemenangan

abi sudah janjikan!” flower menatap mata abi menagih

Abi harus nglakuin apa?”

flower mau sarapan sama bunda, dan abi….” Flower berhenti bicara sambil menatap bunda, agak takut-takut, dan ingin mengatakan dalam tatapannya bahwa bunda ga boleh protes

Abi nyanyi selagi kita sarapan” flower meneruskan

Abi dan bunda saling berpandangan. Abi mngernyitkan jidatnya sambil tersenyum, lewat senyumannya itu ingin mengatakan pada bunda “anakmu jahil!, dapat ide dari mana dia”

Oke tuan putri, silahkan ke meja makan dulu, demi tuan putri saya akan melakukan yang terbaik” abi menunduk dan tangannya menunjuk ke ruang makan, seperti recepsionis hotel mempersilahkan tamu

Flower menggandeng tangan bunda kemudian melangkah girang menuju meja makan yang sudah siap dengan menu sarapan kesukaan flower

Waow, nasi goreng teri” mata flower terbelalak girang, ia tersenyum menatap bunda. Pandangan terima kasih, dan bunda sudah terbiasa dengan pandangan seperti itu

Beberapa saat kemudian abi datang mamakai topi koboy sambil menenteng gitar

Permisi tuan putri, silahkan disantap hidangannya”

Flower tersenyum, bunda juga ikut tersenyum

Abi menggeser tempat duduknya agak menjauh dari meja makan

Lagu pertama untuk putri tercantiku, semoga berkenan”

Dan lagu Harold Arlen “Over the rainbow”pun mengalun.

Somewhere over the rainbow
Way up high
There’s a land that I heard of
Once in a lullaby

Somewhere over the rainbow
Skies are blue
And the dreams that you dare to dream
Really do come true

Some day I’ll wish upon a star
And wake up where the clouds are far behind me
Where troubles melt like lemondrops
Away above the chimney tops
That’s where you’ll find me

Somewhere over the rainbow
Bluebirds fly
Birds fly over the rainbow
Why then, oh why can’t I?
Some day I’ll wish upon a star
And wake up where the clouds are far behind me
Where troubles melt like lemondrops
Away above the chimney tops
That’s where you’ll find me

Somewhere over the rainbow
Bluebirds fly
Birds fly over the rainbow
Why then, oh why can’t I?

If happy little bluebirds fly
Beyond the rainbow
Why, oh why can’t I?

Jatinangor, 15 Mei 2009

Lagi ngelihat video klipnya lagu diatas, yang dinyayin sama bintang amerikan idol yang rambutnya panjang itu, ga kenal siapa namanya.

Di pelukan Dingin

Di pelukan dingin. Diselimuti kabut. Didera gerimis. Ditusuk angin. Dalam kelelahan. Dipijit rasa nyeri.
Di tengah semua ini ya Allah….
Apa yang hamba cari…

Barangkali Engkau
Sebab di sunyi ini hamba ingin meratap
Meminta pengampunan hati yang sering berhianat

Barangkali matahari
Yang Kau pinta datang melipat malam
Merekah bunga disulut nyalanya
Mungkin segala asa yang beku menggenang beriak-riak disapa hangatnya

Barangkali pagi
Yang kau pinta menguntai embun di pucuk-pucuk daun
Mungkin luruh congkak jiwa dilarut beningnya

Barangkali aku tak tahu
Berharap celup pemahaman dari-Mu

Mengenang malam di puncak gunung cikurai, Jatinangor-cibiru, 11 Januari 2009

GAZA

Duhai, lihatlah
Kabar baik itu telah datang dari langit dunia
Meski awan disana masih memuram
Meski tanah disana masih membasah darah
Meski debu disana masih memerah saga

Duhai, lihatlah
Kabar baik itu telah datang dari langit dunia
Benarlah. Nyatalah. Tak ada peluh yang menguap sia-sia
Tak ada darah yang mengalir mubazir
Tak ada do’a yang terbang gentayangan
Setiap titik di ruang dan waktu takan pernah lupa dihitungnya

Duhai, lihatlah
Kabar baik itu telah datang dari langit dunia
Bepuluh tahun kabarnya redam oleh angin
Kalis oleh hujan
Dan kini….
”Demi Gaza, untuk Gaza….”
Indah ya Allah, biarkan hamba menangis mendengarnya

Duhai, lihatlah
Tak berbilang malaikat datang
Bukan. Bukan membantu hamas menumpas penindas
Tapi datang pada tiap hati
Membuka pintunya dan menaruh darah Gaza di dalamnya

Ini darahku, ini darah kita
Ini Gazaku, ini Gaza kita

Rumah Kaca, 9 Januari 09

Duhai, jika kau lagi bersedih, merasa kehidupan tak lagi berbaik hati, baiknya kau tau bahwa kisahmu hari ini baru sepotong yang kau terima, belum lengkap, belum sampai pada ujungnya. Beruntung kelak kau menerima utuhnya.

Duhai, jika kau lagi bersedih, merasa kehidupan tak lagi adil, apakah kau anggap tuhan semesta alam buatkan kisah buruk buatmu, apakah kau anggap Dia tak mau tau keluh kesahmu.

Duhai, baiknya kau tau, ada rencana-rencana indah buatmu. sengaja. khusus buatmu. Hanya saja kau tak tau itu. Kau hanya diminta percaya. Cukup percaya saja.

Duhai, tak cukupkah janji-janjiNya itu tempat kau berpegang

rumah kaca, 28 Nov ‘08

Puisi tengah malam

Bro.….

Bahkan kini telah sepi hatiku, meski kau masih disini

Kau tahu….

Mungkin hatiku telah kemasa depan

Tak melihatmu dalam lembaran-lembaran harinya

Ia kesepian…

Kedinginan

Bro…

Tak bisakah kita duduk disini

Hingga malam melewati kita

Tak usahlah ada kata-kata

Biarkan hati yang membahasnya

Sesi pertama : dosa

Sesi kedua : mimpi

Sesi ketiga : rindu

Bro

Tanks for every moment that have been throught

Jatinangor, 9 November 2008

Pria berbelanja cinta

Berbelanja “cinta” di sebuah toko “Calon Istri

Ini sebuah kisah yang sering kali kita dengar. Bahkan mungkin pernah kita baca berkali-kali. Akan saya ceritakan ulang…. Tentang seorang pria yang diberikan kesempatan berbelanja “cinta” di sebuah toko “Calon Istri”. Ada enam lantai di toko tersebut dengan masing-masing kelompok calon istri, setiap pria yang masuk bisa memilih cintanya di setiap lantai dengan satu SYARAT: “Anda hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI” Dan jika sudah naik ke lantai berikutnya, sama sekali tidak boleh turun. harga sesuai dengan lantai.Lalu, seorang pria pun pergi ke toko “istri” tersebut untuk mencari calon istrinya.

LANTAI 1 : Gadis di lantai ini mau menerima kita apa adanya dan berjilbab rapi. pria itu tersenyum, kemudian dia naik ke lantai selanjutnya.

LANTAI 2: Gadis di lantai ini mau menerima kita apa adanya,berjilbab rapi, dan pinter masak. Kembali pria itu naik ke lantai selanjutnya.

LANTAI 3: Gadis di lantai ini mau menerima kita apa adanya, berjilbab rapi, pinter masak dan “macuaan” (manis tur cuaaantik )….

banget. ” Wow”, tetapi pikirannya masih penasaran dan ingin terus naik.

Lalu sampailah pria itu di lantai 4, disitu terdapat tulisan LANTAI 4: Gadis di lantai ini mau menerima kita apa adanya, berjilbab rapi, pinter masak ,“macuaan” (manis tur cuaaantik )banget dan pinter mengatur keuangan keluarga. ”Astaghfirullah!” Dia berseru, ”Aku hampir tak percaya.” Dan dia tetap melanjutkan ke lantai 5 kemudian terdapat tulisan seperti ini: LANTAI 5: Gadis di lantai ini mau menerima kita apa adanya ,berjilbab rapi, pinter masak ,“macuaan” (manis tur cuaaantik )banget, pinter mengatur keuangan keluarga dan mau dipoligami

Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia melangkah terus ke lantai 6. Tapi apa yang dia temukan? Ya ampun hanya terdapat tulisan seperti ini: LANTAI 6: Anda adalah pengunjung yang ke-4.363.012. Tidak ada gadis di lantai ini. Lantai ini hanya semata-mata bukti untuk lelaki yang tidak pernah merasa puas. Terima kasih telah berbelanja di toko “Istri“. Hati-hati ketika keluar toko dan semoga hari yang indah buat anda.

Pesan moralnya? : terserah anda ajalah

Di adaptasi ulang dari naskah yang dibacakan pada sebuah acara di radio pro 2 FM,Judul naskah aslinya lupa, tapi pengarangnya Tere Liye

Jam 3 pagi

Ya robbi

Hamba yang sering hilang kemudi

Kadang tersesat dalam rimba jahat dunia

Tak tau sedang melangkah kemana

Meminta arah

Akankah Kau kabulkan ya Allah…

Hiks……

Ya ’alim

Hamba yang payah

Tak kuat menahan bujukan maksiat

Memohon kembali pada rambuMu

Mesti dengan satu syarat

”hamba tak kuat dengan tilangMu”

Akankah Kau kabulkan ya Allah…

Hiks…

Ya ghofar

Hamba yang tak tau diri

Tak pernah lupa ingkar janji

Hiks…

Ya kholik

Hamba yang terus berlari mengejar mimpi

Kadang terlalu asyik dengannya

Lupa pulang ya Allah

Hiks….

Hiks..hiks..hiks..

Nikmat ya Allah menangis..

Mengadu….

Dekap hamba dengan cahayamu

(tu kan nyuruh, enak banget…!!!)

Satu lagi ya Allah

Hamba yang selalu berdo’a

Menyuruh dan memaksa

Akankah Kau ampuni ya Allah…

Jatinangor, 9 November 2008

Puncak pendakian pertama

Dia memelukku begitu erat, meski kemudian tertawa kecil, seakan apa yang dilakukan barusan cuma bercanda. Hari ini ia sampai pada puncak pendakiannya yang panjang dan melelahkan. Fresh graduate, seorang sarjana perguruan tinggi terkemuka di negeri ini.

Saat dipeluk sejujurnya kurasakan perasaannya mengalir masuk, meresap tak beraturan, kemudian buncah menguap, seperti angin pagi yang ingin membagi dinginnya, kemudian bergumul dengan hawa dari tubuh kita. Aku jadi terharu hiks….

Tapi gara-gara gaya cengengesannya itu tak jadilah aku menangis.

Nah kawan, tahukah engkau… saat dipeluk itu aku jadi mengerti satu hal.

Bahwa kebahagiaan itu takan berkurang saat dibagi, malah bertambah berkali-kali lipat. Subhanallah.

Dan akhirnya meski tak kusampaikan, aku menyemai satu harapan atas moment berbahagia itu. Smoga engkau tak pernah bosan mendaki dan mendaki lagi sobat, karena “the dream that you dare to dream really do come true”

Jatinangor, 29 Oktober 2008

Ini sebuah kisah yang sering kali kita dengar. Bahkan mungkin pernah kita baca berkali-kali. Akan saya ceritakan ulang…. Tentang seorang gadis yang diberikan kesempatan berbelanja “cinta” di sebuah toko “Calon Suami”. Ada enam lantai di toko tersebut dengan masing-masing kelompok calon suami, setiap gadis yang masuk bisa memilih cintanya di setiap lantai dengan satu SYARAT: “Anda hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI” Dan jika sudah naik ke lantai berikutnya, sama sekali tidak boleh turun. Lalu, seorang gadis pun pergi ke toko “suami” tersebut untuk mencari calon suaminya.
LANTAI 1 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan dan taat pada Tuhan. Wanita itu tersenyum, kemudian dia naik ke lantai selanjutnya.
LANTAI 2: Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, dan sayang anak kecil. Kembali wanita itu naik ke lantai selanjutnya.
LANTAI 3: Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, sayang anak kecil dan cakep
banget. ” Wow”, tetapi pikirannya masih penasaran dan terus naik.
Lalu sampailah wanita itu di lantai 4 dan terdapat tulisan LANTAI 4: Lelaki di lantai ini yang memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, sayang anak kecil, cakep banget dan suka membantu pekerjaan rumah. ”Ya ampun !” Dia berseru, ”Aku hampir tak percaya.”
Dan dia tetap melanjutkan ke lantai 5 dan terdapat tulisan seperti ini: LANTAI 5: Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, sayang anak kecil, cakep banget, suka membantu pekerjaan rumah, dan romantis.
Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia melangkah terus ke lantai 6. Tapi apa yang dia temukan? Ya ampun hanya terdapat tulisan seperti ini: LANTAI 6: Anda adalah pengunjung yang ke-4.363.012. Tidak ada lelaki di lantai ini. Lantai ini hanya semata-mata bukti untuk wanita yang tidak pernah merasa puas. Terima kasih telah berbelanja di toko “Suami”. Hati-hati ketika keluar toko dan semoga hari yang indah buat anda.
Pesan moralnya? Kesempatan tidak datang dua kali. Terimalah cinta kita dengan sederhana, katakan dan jalanilah dengan sederhana pula. Dengan demikian, semoga cinta sejati kita justru membuat iri seluruh semesta alam.
Di ambil dari tulisan Tere Liye

“Kenapa kamu masih terus menulis di blog?” kalimat tersebut bukan muncul dari mulut orang lain, melainkan terlontar dari hatiku sendiri yang coba menemukan penguatan kenapa aku mesti terus menulis. Bagi sebagian orang mungkin saja menulis itu sudah sama pentingnya dengan buang air, tetapi tidak pada sebagian besar masyarakat Indonesia, atau jika mengambil sample masyarakat Indonesia sudah terlalu biasa karena tingkat pendidikannya yang rendah, bagaimana dengan lingkungan kampus yang notabene membaca dan menulis adalah sebuah tradisi?. Sudahkah menulis bagi sebagian besar mahasiswa dianggap penting?. Kalau saya diminta menjawab, maka seratus persen yakin jawabannya belum. Tentu saja yang saya maksud menulis disini bukan menulis SMS atau menulis bahan kuliah dari dosen. Menulis yang saya maksud adalah merespon apa yang terjadi disekitar kita, kemudian mencampurnya dengan pengetahuan, idealisme, dan prinsip yang ada dalam diri kita, baru kemudian outputnya berupa tulisan. Atau kalau bahasa Dian Sastro (kemaren baru berkunjung ke blognya) “berani memproduksi pikirannya sendiri”, belum mengerti juga, saya kasi bahasanya Ada band “saat dunia acuhkan dirimu / jangan ragu nyatakan sikapmu/ bawa semua angan dan harapan”.

Menulis diblog bagi bloger seperti seperti saya (temen2nya ga suka blog, bukan penjaga warnet (penjaga warnet aja sukanya Cuma friendsteran doang), trus miskin (buat makan aja susah apalagi buat ke warnet)) memerlukan energi kesabaran mandiri, ya artinya ibarat robot ia harus bisa cari setrum sendiri. Pun ketika menulis, inginnya sih berteriak kepada dunia, dan berharap dunia akan mendengarkan, tapi kenyataanya urang nu nulis, urang nu posting, urang keneh nu baca. Atu aing mah euy!

Tulisan Sebelumnya »