Kelak jika aku sukses dan terkenal maka akan konferensi pers dan bilang begini : Mencapai ini…seperti di puncak sebuah gunung. melihat begitu jauh aku telah berjalan, menyusuri lereng terjal, melintasi hutan lebat. aku sadar kemungkinan untuk tersesat dan tidak sampai pada tujuan jauh lebih besar jika tanpa hiburan dan papahan dari kalian “my true and best friends” untuk itu aku sampaikan tankyu yang terdalam. semoga kalian selalu ingat untuk menyebar lebih banyak kebaikan. banyakin karya2 tentang persahabatan, dan kurangi kecengengan karena cinta (patah hati, cemburu, rebutan cewek ato cowok, dasar kamu bajingan, manusia paling seksi ah…ah.., jomblo ga laku-laku, menangis semalam ditinggal lari pacar. dll). Cinta itu menguatkan cuy. ga nyambung yah….emang dibuat begitu
Hidup tenang terpencil di desa, berbuat baik dengan tulus, memiliki perkebunan strowberry, bertani, beternak, dan menanam untuk kehidupan, bukan untuk uang, membuat taman bacaan, di taman itu akan berbagi tentang cinta, bersyukur, murah hati, kesederhanaan, ketulusan, dan nilai-nilai indah yang lain.
Menyibukan diri dengan buku, membaca, menulis, mengajar,
Mencipta lagu, puisi, kisah-kisah inspirasi dan hal-hal atau teknologi yang yang mudah digunakan petani kecil
Berkeluarga, ya tentu, apalagi yang paling diinginkan hati seorang pria
Memulai pagi dengan senyummu, makan siang digubuk dibelai nafas angin, pulang saat hujan satu payung berdua, duduk minum teh sambil menikmati senja, menyapa ramah para petani yang pulang dari ladang, kemudian tidur dengan ranjang yang sempit, bukan karena aku tidak mampu beli, tapi karena kau menginginkannya, kau selalu ingin merasakan detak jantungku.
Anak-anak yang membanggakan, mereka akan belajar banyak bahasa, berani menjalani mimpi , idealis, punya hati yang lembut, dan yang pasti tau menjadi makhluk yang diinginkan oleh penciptanya.
Rumah kaca, 8 Ramadhan 1430 H
Ditulis dalam catatan langkah kecilku | Bertanda Desa, Kebahagiaan, Keluarga | 1 Komentar »
Aku adalah seorang pengajar, selama ini banyak hal yang telah saya alami dan baca dari buku-buku. Ada teori bagaimana seseorang harus belajar, bagaimana guru mesti mengajar, bagaimana kondisi lingkungan tempat belajar, dll. Sama sekali aku tak menolak semua teori itu, tapi sampai sejauh ini aku baru menyadari bahwa dalam dunia belajar mengajar hanya dibutuhkan teori yang begitu simpel yaitu seorang pengajar yang sabar juga penuh kasih sayang dan seorang pembelajar yang memiliki tekad serta kemauan yang kuat. Dua hal itu telah cukup mengantarkan orang-orang hebat mencapai potensi terbesar dalam dirinya. Ambil saja sebagai contoh Andrea Hirata yang telah menulis beografi dirinya yang juga telah menjadi novel terlaris di Indonesia dengan gurunya di waktu SD yaitu Bu Muslimah, kalau anda telah membaca novel laskar pelangi, anda pasti akan merasakan ketulusan dan kasih sayang bu Mus beserta tekad Andrea. Atau contoh lain adalah kisah seorang yang hanya memiliki satu indra untuk berkomunikasi dengan dunia, mata, dan telinganya tak berfungsi sehingga yang bekerja hanya syaraf perabanya saja. Dia adalah Hellen keller yang karena kekuatan tekad dan kasih sayang pembimbingnya Anne Sulivan, akhirnya menjadi motivator, pembicara, dan penulis hebat dunia. Tak cukup dengan dua contoh itu sebut saja satu-persatu sahabat nabi Muhammad yang sebelumnya hanyalah penggembala, bisa menjadi manusia-manusia luar biasa yang namanya terukir dalam sejarah, tentu saja berkat bimbingan dan kasih sayang nabi tercinta mereka.
So, menurutku bukanlah suatu masalah yang perlu dibesar-besarkan jika fasilitas tak mendukung sebuah sekolah. Dimanapun seseorang belajar maka faktor kunci yang membuat kemajuan adalah individu-individu yang berinterkasi di dalamnya.
Rumah Kaca, 17 Maret 2009
Ditulis dalam Pendidikan | Bertanda Helen Keller, Laskar pelangi, Teori Pendidikan | Leave a Comment »
Ramadhan selalu menjadi moment kerinduan yang begitu klasik
Seperti rindu untuk pulang setelah sekian lama pergi
Seperti rindu untuk beristirahat setelah begitu lelah beraktivitas
Atau seperti rindu bermain layang-layang di hamparan sawah menghijau
Ramadhan selalu terdefinisi sebagai suatu kesejukan
Seperti suatu sore di hutan cemara, angin semilir meniup daun jarumnya
Menimbulkan desau yang mengipas hati
Atau seperti mengejar kupu-kupu di hamparan kembang ilalang
Kelopak putihnya yang begitu lembut membumbung saat menyibaknya
Oh my God
jangan-jangan selama ini aku sesat
berlari kesana kemari untuk kebahagian tapi lelah yang kudapat
atau aku tak punya tujuan hakiki
I don’t care ah
Pokoknya ketemu ramadhan
Seperti kembali kemasa bayi dalam dekapan bunda
Merasakan detak jantungnya
Merasakan rengkuhan perlindungannya
Marhaban ya ramadhan
Ditulis dalam Puisi | Bertanda damai, muleh, pulang, Ramadhan | 2 Komentar »
“Ga mau!, pokoknya flower ga mau!”
“Astagfirllah flower, sejak kapan flower jadi begini!”
“Habisnya Abinya bohong, katanya mau dikasi tau nama-nama rasi bintang sekalian dongengnya!”
“Ya Abinya kan sibuk sayang, kalau nanti malam abi ga sibuk flower akan didongengin, ayo sekarang keluar, kita sarapan bareng abi”
“kalau ga mau jangan dipaksa! Titik!”
“Jadi flower ga mau sekolah!”
“Mau tapi ga mau sarapan bareng abi”
“ada apa bund?” abi datang
“Abi lupa ya?, tadi malam janji sama flower?” bunda berbisik
“Astagfirrllah iya” abi menepuk jidatnya
“Ya udah, biar sama abi”
Perlahan abi mengetuk pintu pelan
“Flower, abi mau minta maaf, buka pintu dong”
“Ga mau!, udah 2 kali abi bohong”
“Iya sayang, abi ngaku salah, lalu harus dengan cara apa abi minta maaf”
“bener ni!” suara flower mulai melunak, matanya berputar2 memikirkan hal jahil untuk balas dendam
“Iya tapi buka pintunya dulu, keburu abi telat, flowernya juga telat nanti”
“Tapi abi janji dulu, selain nanti sebelum isya abi harus sudah pulang, sekarang abi harus ngelakuin 1 hal buat flower”
“Iya flower, abi janji”
Pintu pun di buka flower keluar dengan tersenyum penuh kemenangan
“abi sudah janjikan!” flower menatap mata abi menagih
“Abi harus nglakuin apa?”
“flower mau sarapan sama bunda, dan abi….” Flower berhenti bicara sambil menatap bunda, agak takut-takut, dan ingin mengatakan dalam tatapannya bahwa bunda ga boleh protes
“Abi nyanyi selagi kita sarapan” flower meneruskan
Abi dan bunda saling berpandangan. Abi mngernyitkan jidatnya sambil tersenyum, lewat senyumannya itu ingin mengatakan pada bunda “anakmu jahil!, dapat ide dari mana dia”
“Oke tuan putri, silahkan ke meja makan dulu, demi tuan putri saya akan melakukan yang terbaik” abi menunduk dan tangannya menunjuk ke ruang makan, seperti recepsionis hotel mempersilahkan tamu
Flower menggandeng tangan bunda kemudian melangkah girang menuju meja makan yang sudah siap dengan menu sarapan kesukaan flower
“Waow, nasi goreng teri” mata flower terbelalak girang, ia tersenyum menatap bunda. Pandangan terima kasih, dan bunda sudah terbiasa dengan pandangan seperti itu
Beberapa saat kemudian abi datang mamakai topi koboy sambil menenteng gitar
“Permisi tuan putri, silahkan disantap hidangannya”
Flower tersenyum, bunda juga ikut tersenyum
Abi menggeser tempat duduknya agak menjauh dari meja makan
“Lagu pertama untuk putri tercantiku, semoga berkenan”
Dan lagu Harold Arlen “Over the rainbow”pun mengalun.
Somewhere over the rainbow
Way up high
There’s a land that I heard of
Once in a lullaby
Somewhere over the rainbow
Skies are blue
And the dreams that you dare to dream
Really do come true
Some day I’ll wish upon a star
And wake up where the clouds are far behind me
Where troubles melt like lemondrops
Away above the chimney tops
That’s where you’ll find me
Somewhere over the rainbow
Bluebirds fly
Birds fly over the rainbow
Why then, oh why can’t I?
Some day I’ll wish upon a star
And wake up where the clouds are far behind me
Where troubles melt like lemondrops
Away above the chimney tops
That’s where you’ll find me
Somewhere over the rainbow
Bluebirds fly
Birds fly over the rainbow
Why then, oh why can’t I?
If happy little bluebirds fly
Beyond the rainbow
Why, oh why can’t I?
Jatinangor, 15 Mei 2009
Lagi ngelihat video klipnya lagu diatas, yang dinyayin sama bintang amerikan idol yang rambutnya panjang itu, ga kenal siapa namanya.
Ditulis dalam catatan langkah kecilku | Bertanda amerikan idol, Over the rainbow | Leave a Comment »
Di pelukan dingin. Diselimuti kabut. Didera gerimis. Ditusuk angin. Dalam kelelahan. Dipijit rasa nyeri.
Di tengah semua ini ya Allah….
Apa yang hamba cari…
Barangkali Engkau
Sebab di sunyi ini hamba ingin meratap
Meminta pengampunan hati yang sering berhianat
Barangkali matahari
Yang Kau pinta datang melipat malam
Merekah bunga disulut nyalanya
Mungkin segala asa yang beku menggenang beriak-riak disapa hangatnya
Barangkali pagi
Yang kau pinta menguntai embun di pucuk-pucuk daun
Mungkin luruh congkak jiwa dilarut beningnya
Barangkali aku tak tahu
Berharap celup pemahaman dari-Mu
Mengenang malam di puncak gunung cikurai, Jatinangor-cibiru, 11 Januari 2009
Ditulis dalam Puisi | Leave a Comment »
Duhai, lihatlah
Kabar baik itu telah datang dari langit dunia
Meski awan disana masih memuram
Meski tanah disana masih membasah darah
Meski debu disana masih memerah saga
Duhai, lihatlah
Kabar baik itu telah datang dari langit dunia
Benarlah. Nyatalah. Tak ada peluh yang menguap sia-sia
Tak ada darah yang mengalir mubazir
Tak ada do’a yang terbang gentayangan
Setiap titik di ruang dan waktu takan pernah lupa dihitungnya
Duhai, lihatlah
Kabar baik itu telah datang dari langit dunia
Bepuluh tahun kabarnya redam oleh angin
Kalis oleh hujan
Dan kini….
”Demi Gaza, untuk Gaza….”
Indah ya Allah, biarkan hamba menangis mendengarnya
Duhai, lihatlah
Tak berbilang malaikat datang
Bukan. Bukan membantu hamas menumpas penindas
Tapi datang pada tiap hati
Membuka pintunya dan menaruh darah Gaza di dalamnya
Ini darahku, ini darah kita
Ini Gazaku, ini Gaza kita
Rumah Kaca, 9 Januari 09
Ditulis dalam Puisi | Bertanda Gaza, Palestina, zionis | 1 Komentar »
Duhai, jika kau lagi bersedih, merasa kehidupan tak lagi berbaik hati, baiknya kau tau bahwa kisahmu hari ini baru sepotong yang kau terima, belum lengkap, belum sampai pada ujungnya. Beruntung kelak kau menerima utuhnya.
Duhai, jika kau lagi bersedih, merasa kehidupan tak lagi adil, apakah kau anggap tuhan semesta alam buatkan kisah buruk buatmu, apakah kau anggap Dia tak mau tau keluh kesahmu.
Duhai, baiknya kau tau, ada rencana-rencana indah buatmu. sengaja. khusus buatmu. Hanya saja kau tak tau itu. Kau hanya diminta percaya. Cukup percaya saja.
Duhai, tak cukupkah janji-janjiNya itu tempat kau berpegang
rumah kaca, 28 Nov ‘08
Ditulis dalam Puisi | Leave a Comment »
Bro.….
Bahkan kini telah sepi hatiku, meski kau masih disini
Kau tahu….
Mungkin hatiku telah kemasa depan
Tak melihatmu dalam lembaran-lembaran harinya
Ia kesepian…
Kedinginan
Bro…
Tak bisakah kita duduk disini
Hingga malam melewati kita
Tak usahlah ada kata-kata
Biarkan hati yang membahasnya
Sesi pertama : dosa
Sesi kedua : mimpi
Sesi ketiga : rindu
Bro…
Tanks for every moment that have been throught
Jatinangor, 9 November 2008
Ditulis dalam Puisi | Leave a Comment »