FPI vs Pendukung Ahmadiyah
( Studi kasus penjotosan FPI di Monas )
Oleh : Upupa
Sore ini hampir semua station TV menempatkan berita tentang pemukulan FPI terhadap aliansi kebebasan beragama dan berkeyakinan di pemberitaan utamanya. Pemberitaan merekapun beragam, ada yang netral tapi lebih banyak yang memihak. Tentu saja yang dipihak adalah yang “tertindas” atau yang dipukuli.
Menyoal tentang kejadian diatas sebagai bagian dari bangsa Indonesia pada umumnya dan dari umat islam pada khususnya tentu saja aku punya respon. Meskipun responku tersebut tidak sesignifikan respon Gusdur yang mengatakan agar segera menangkap pimpinan FPI. Barangkali juga hanya aku sendiri yang membaca tulisan representasi reponku terhadap kejadian di atas, tapi setidaknya aku punya respon pertanda aku masih hidup, masih berfikir, dan masih menyeimbangkan mental oportunis dalam jiwaku.
Secara jujur dari dalam hatiku aku merasa senang dan puas saat melihat orang-orang yang membela ahmadiyah tersebut dipukuli, dan andai tidak ada akibat dari sebuah perbuatan akupun akan ikut bahkan rela mati, karena bagiku hal ini sudah sampai pada perbuatan pengobok-obokan terhadap islam. Kalau anda punya keluarga tentu saja anda tidak akan maukan jika keluarga anda diobok-obok oleh orang lain. Ya itung-itung masih muda, sedikit emosional tidak apa-apalah. Tapi berhubung aku hidup di alam demokrasi mau tidak mau juga mesti berfikir politis. Aku mesti tau aturan main biar bisa menang, biar tidak didiskualifikasi di awal.
Meskipun aku cuma bisa menyalahkan. Pemerintah ya memang pantas untuk disalahkan masalahnya mereka sengaja mengulur-ulur keputusan untuk kepentingan golongan, atau mereka memang terlalu lemot kayak bekicot. Ya kalau mau lebih khusus menyalahkan presiden dan wakilnyalah yang sama-sama tidak responsive. Pantes saja banyak “virus” baca masalah belum “tercure” baca terobati. Virus-virus yang lain berdatangan dan menginveksi semakin banyak system. Akibatnya tidak hanya system yang terinfeksi system yang lainpun ikut terkena dampaknya.
Kalau dipikir-pikir apa sih sebenarnya yang membuat pemerintah lamban dan tidak tegas dalam memutuskan. Kalau pemerintah tidak lagi cemen baca penakut terhadap tekanan asing seharusnya sudah dari dulu tu persoalan selesai. Bagaimana tidak, apa yang menyebabkan ahmadiyah tetap dibela padahal sudah terbukti mereka itu sesat dan menyesatkan. Aku sangat yakin kelompok yang setuju ahmadiyah terus mengobok-obok Islam hanya Gusdur cs dan JIL saja, yang lain sangat tidak setuju. Andai pemerintah meningkatkan kecerdasannya mereka tentu saja akan segera memutuskan bahwa Ahmadiyah dilarang dan kemudian memberikan rekomendasi agar Ahmadiyah segera medirikan system kepercayaan baru. Masalah sudah selesai to!
Untuk memutuskan sesuatu itukan kaidahnya mana yang lebih banyak manfaatnya dan lebih kecil mudhorotnya plus tidak meninggalkan prinsip kebenaran dan keadilan dengan proporsional. Andai Ahmadiyah dilegalkan sebagai bagian dari umat Islam maka ini jelas-jelas meninggalkan prinsip kebenaran dan keadilan karena ditinjau dari segi manapun Ahmadiyah jelas-jelas mengobok-obok Islam. Dan tentu saja pemerintahan SBY-JK akan segera tamat riwayatnya karena bukan hanya segolongan Umat Islam fanatik tegangan tinggi saja yang akan menyerbu, tetapi hampir seluruh elemen umat Islam akan menyerbu. Sebut saja FPI, MMI, Hizbut Tahrir, PKS, sebagian NU, sebagian Muhamadiyah, Persis, dan ratusan ormas Islam lain yang tersebar diseluruh pelosok nusantara. Seharusnya juga Ahmadiyah tau diri bukan malah nyolot baca di kasi hati minta rempela. Sudah untung mereka dibiarkan tumbuh, eee.. keenakan.
Yang terakhir bagi orang islam yang ingin tulus menjalankan agama secara apa adanya menurut yang diturunkan Allah. Masa-masa sekarang adalah masa yang tidak bisa dipandang secara hitam putih, pun tidak bisa dijalankan secara hitam putih juga, mesti ada suply kedewasaan tambahan dan mental politisi sejati, tentu saja agar tidak mati sangit tanpa membuatkan sedikitpun perubahan. Wallahu’alam bishawab
Cibiru,1 Juni 2008