Apa yang paling dinanti ibu dari anaknya? Sudah pasti jawabannya adalah kesuksesan. Seberapa pahit jalan kehidupan yang akan dirasakan, seberapapun mahal kebahagiaan yang akan dibelikan. Takan pernah merasa cukup untuk terus berkorban demi satu alasan yaitu “anaknya”
“Demi anak”, “buat anak” kata-kata tersebut yang selalu menjadi motivasi, inspirasi, jawaban mutlak saat ditanya orang kenapa melakukan ini itu.
Tak ada perbincangan yang paling menarik hati selain anak, tak ada keharuan yang paling menguras air mata selain anak, tak ada do’a yang tak lelah diulang, setiap saat, disepertiga malam, merintih, terguncang terisak selain anak.
Duhai engkau yang telah mencurahkan segalanya untukku kapan kiranya aku bisa membuatmu tersenyum.
Dan pagi ini kau buat aku tergugu
“oalah le pithi’e mati1” katamu sendu
“iku sakjane kanggo syukuran wisudamu2”
Ya rabb yang maha menggenggam nyawa, jikalau Engkau pilih dari sekian juta do’aku untuk kau kabulkan maka pilihlah umur panjang untuk ibuku
aku ingin membuatnya tersenyum bangga sepanjang hidupnya
1 Oalah anakku ayamnya mati
2 Itu sebenarnya disiapkan dari dulu buat syukuran wisudamu
Cibiru, Juni 2008