“Kenapa kamu masih terus menulis di blog?” kalimat tersebut bukan muncul dari mulut orang lain, melainkan terlontar dari hatiku sendiri yang coba menemukan penguatan kenapa aku mesti terus menulis. Bagi sebagian orang mungkin saja menulis itu sudah sama pentingnya dengan buang air, tetapi tidak pada sebagian besar masyarakat Indonesia, atau jika mengambil sample masyarakat Indonesia sudah terlalu biasa karena tingkat pendidikannya yang rendah, bagaimana dengan lingkungan kampus yang notabene membaca dan menulis adalah sebuah tradisi?. Sudahkah menulis bagi sebagian besar mahasiswa dianggap penting?. Kalau saya diminta menjawab, maka seratus persen yakin jawabannya belum. Tentu saja yang saya maksud menulis disini bukan menulis SMS atau menulis bahan kuliah dari dosen. Menulis yang saya maksud adalah merespon apa yang terjadi disekitar kita, kemudian mencampurnya dengan pengetahuan, idealisme, dan prinsip yang ada dalam diri kita, baru kemudian outputnya berupa tulisan. Atau kalau bahasa Dian Sastro (kemaren baru berkunjung ke blognya) “berani memproduksi pikirannya sendiri”, belum mengerti juga, saya kasi bahasanya Ada band “saat dunia acuhkan dirimu / jangan ragu nyatakan sikapmu/ bawa semua angan dan harapan”.
Menulis diblog bagi bloger seperti seperti saya (temen2nya ga suka blog, bukan penjaga warnet (penjaga warnet aja sukanya Cuma friendsteran doang), trus miskin (buat makan aja susah apalagi buat ke warnet)) memerlukan energi kesabaran mandiri, ya artinya ibarat robot ia harus bisa cari setrum sendiri. Pun ketika menulis, inginnya sih berteriak kepada dunia, dan berharap dunia akan mendengarkan, tapi kenyataanya urang nu nulis, urang nu posting, urang keneh nu baca. Atu aing mah euy!
Tong ngarasula atuh jang !
. keep blogging !!!