Ramadhan selalu menjadi moment kerinduan yang begitu klasik
Seperti rindu untuk pulang setelah sekian lama pergi
Seperti rindu untuk beristirahat setelah begitu lelah beraktivitas
Atau seperti rindu bermain layang-layang di hamparan sawah menghijau
Ramadhan selalu terdefinisi sebagai suatu kesejukan
Seperti suatu sore di hutan cemara, angin semilir meniup daun jarumnya
Menimbulkan desau yang mengipas hati
Atau seperti mengejar kupu-kupu di hamparan kembang [...]
Arsip untuk ‘Puisi’ Kategori
Muleh
Diposkan dalam Puisi, Label damai, muleh, pulang, Ramadhan pada Agustus 18, 2009 | 2 Komentar »
Di pelukan Dingin
Diposkan dalam Puisi pada Januari 27, 2009 | Leave a Comment »
Di pelukan dingin. Diselimuti kabut. Didera gerimis. Ditusuk angin. Dalam kelelahan. Dipijit rasa nyeri.
Di tengah semua ini ya Allah….
Apa yang hamba cari…
Barangkali Engkau
Sebab di sunyi ini hamba ingin meratap
Meminta pengampunan hati yang sering berhianat
Barangkali matahari
Yang Kau pinta datang melipat malam
Merekah bunga disulut nyalanya
Mungkin segala asa yang beku menggenang beriak-riak disapa hangatnya
Barangkali pagi
Yang kau pinta menguntai [...]
Duhai, lihatlah
Kabar baik itu telah datang dari langit dunia
Meski awan disana masih memuram
Meski tanah disana masih membasah darah
Meski debu disana masih memerah saga
Duhai, lihatlah
Kabar baik itu telah datang dari langit dunia
Benarlah. Nyatalah. Tak ada peluh yang menguap sia-sia
Tak ada darah yang mengalir mubazir
Tak ada do’a yang terbang gentayangan
Setiap titik di ruang dan waktu takan pernah [...]
Sepotong cerita yang membuatmu sedih
Diposkan dalam Puisi pada Desember 2, 2008 | Leave a Comment »
Duhai, jika kau lagi bersedih, merasa kehidupan tak lagi berbaik hati, baiknya kau tau bahwa kisahmu hari ini baru sepotong yang kau terima, belum lengkap, belum sampai pada ujungnya. Beruntung kelak kau menerima utuhnya.
Duhai, jika kau lagi bersedih, merasa kehidupan tak lagi adil, apakah kau anggap tuhan semesta alam buatkan kisah buruk buatmu, apakah kau [...]
Puisi tengah malam
Diposkan dalam Puisi pada November 21, 2008 | Leave a Comment »
Bro.….
Bahkan kini telah sepi hatiku, meski kau masih disini
Kau tahu….
Mungkin hatiku telah kemasa depan
Tak melihatmu dalam lembaran-lembaran harinya
Ia kesepian…
Kedinginan
Bro…
Tak bisakah kita duduk disini
Hingga malam melewati kita
Tak usahlah ada kata-kata
Biarkan hati yang membahasnya
Sesi pertama : dosa
Sesi kedua : mimpi
Sesi ketiga : rindu
Bro…
Tanks for every moment that have been throught
Jatinangor, 9 November 2008
Jam 3 pagi
Diposkan dalam Puisi pada November 9, 2008 | Leave a Comment »
Ya robbi
Hamba yang sering hilang kemudi
Kadang tersesat dalam rimba jahat dunia
Tak tau sedang melangkah kemana
Meminta arah
Akankah Kau kabulkan ya Allah…
Hiks……
Ya ’alim
Hamba yang payah
Tak kuat menahan bujukan maksiat
Memohon kembali pada rambuMu
Mesti dengan satu syarat
”hamba tak kuat dengan tilangMu”
Akankah Kau kabulkan ya Allah…
Hiks…
Ya ghofar
Hamba yang tak tau diri
Tak pernah lupa ingkar janji
Hiks…
Ya kholik
Hamba [...]
Mana?
Diposkan dalam Puisi, Label mana, poem pada September 19, 2008 | Leave a Comment »
Manakah kini kau yang tak bersarang
Ingin bebas lepas tanpa batas
Manakah kini kau yang ingin mendaki
Puncak-puncak tertinggi
Manakah kini kau yang bersuara lantang
Tentang mimpi-mimpi yang ingin kau buktikan
Lalu kemana kau ingin pergi semua
Ah…. ternyata…
Begitu kecil tak berdaya
Tergolek tak berdaya karena abses skrotal
Cibiru, 16 Februari 2008
Sepi
Diposkan dalam Puisi, Label Puisi, sepi pada Juli 24, 2008 | Leave a Comment »
Sepi itu adalah hati yang hilang kepingannya
Dibawa pemiliknya
Maka kosonglah ia
Rindu itu adalah sepi yang menginginkan riuhnya
Menyatu dalam jejak-jejaknya
13 Juni 2008
MAULID NABI 1429 H seri-2
Diposkan dalam Puisi pada Maret 24, 2008 | Leave a Comment »
Eureka!!
Aha! Aku temukan keindahan itu
Seperti yang dirasakan Aminah binti Abdul mutholib
Saat ruh itu ditiupkan pada nutfah yang berlindung di dalam rahimnya.
MAULID NABI 1429 H seri-1
Diposkan dalam Puisi pada Maret 24, 2008 | Leave a Comment »
Apa yang mesti aku tulis tentangnya
Sedangkan ribuan kata yang terpilih dari nucleus keindahan telah lama bersuka cita membuatkan puisi untuknya
Maka aku bingung
Dan kubiarkan saja kertas putih ini tetap putih