Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
- Sapardi Djoko Damono, 1978
Kupikir ini terlambat, tapi terlambat karena apa, bukankah waktu selalu berulang, hari ini, kemaren, besok, toh kita juga menatap matahari yang sama, matahari yang ingin kau lipat itu, matahari di tahun barumu.
Bro, entah apakah penting untuk memulai tahun baru, tapi kurasa aku setuju seperti kebanyakan orang yang memperingatinya, karena kita abadi, dan waktulah yang fana. Pun ku kira kau juga menganggapnya begitu, aku menerkanya saat kau berusaha merasakan detik pertamanya, bersama sunyi, bersama jari yang mewakili mulut berbicara, bersama kenangan yang telah berdiri pada tempat keabadiannya. Maka aku terkesiap, terharu. Lalu apa yang bisa kuhadiahkan untukmu, atau ini sajalah dulu, terimalah apa ala kadarnya, kuharap kau suka, mungkin kau sudah membacanya atau menulisnya, tidak apa-apalah.
DALAM DIRIKU
dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya!
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya
- Sapardi Djoko Damono, 1980
Bro, entah berapa lama waktu telah membungkus kita dalam kepompongnya, masa itu aku juga lupa, diriku, atau dirimu yang pertama menyapa, yang jelas kita telah banyak belajar bersama, belajar mengurai makna yang berpendar dalam cahaya, belajar mengeja dunia dalam cinta dan kebijaksanaan-Nya, belajar bagaimana peliknya menjalani keseharian hidup, menyeimbangankan ego dan kesetiakawanan, belajar menjadi hamba yang tau bersyukur, bersyukur pada setiap garis takdir, nikmat, hidayah yang seringkali tidak kita sadari. Dan karena kita telah banyak belajar bersama, maka ijinkan aku seperti syairnya sheila on seven ”memegang pundakmu”, mungkin saja kau lelah, telah berjalan 23 tahun lamanya. Aku coba sambungkan nasehat orang yang selama ini sering kita kecewakan, karena kita tak jua menjadi pemuda yang dibanggakan. Barangkali bisa jadi penawar, di belantara, di kereta, atau di dalam kamarmu yang sempit itu.
TIGA PENGHANCUR DAN PENYELAMAT
Rosulullah saw bersabda; ”Ada tiga penghancur, tiga penyelamat, tiga penebus, dan tiga derajat.
Adapun tiga penghancur adalah:
Pertama, kekikiran yang ditaati
Kedua, hawa nafsu yang diikuti.
Ketiga, bangganya seseorang terhadap dirinya sendiri.
Tiga penyelamat adalah:
Pertama, adil dalam keadaan marah dan ridha.
Kedua, hemat ketika miskin dan kaya
Ketiga, takut kepada Allah ketika sendiri atau bersama.”
– (HR. Thabrani dan Abu Nu’aim, dihasankan oleh syekh Albani)
Bro, kau tau bahwa aku orang yang percaya terhadap kemanjuran do’a, mungkin kelak kau dapat mengambil bintang, kemudian membagi-bagikannya, atau menyimpan matahari dalam lacimu, kemudian menggunting jilatannya agar rapi, terserah kaulah, lahuu da’watul haqq (Qs:13;14), tapi jangan kuatir,kan ku amini.
Bro, yang terakhir, mungkin kau beri kesempatan kepadaku untuk berdo’a sebelum musim menanggalkan daun* maka resapilah partikel-partikel kecil yang sepi, namun berenergi sangat tinggi, melesat tak beraturan menembus masa depan. Aku begitu suka do’a ini, entah apa hajatnya maka akan aku bunyikan selalu:
” Ya Allah, dengan Al-Qur’an, karuniakanlah kasih sayang-Mu kepada kami. Jadikan Al-Qur’an sebagai imam, cahaya, hidayah, dan sumber rahmat bagi kami. Ya Allah, ingatkan kami bila ada ayat yang kami lupa mengingat-nya. Ajarkan pada kami, ayat yang kami bodoh memahami-nya. Karuniakan kepada kami kenikmatan membacanya, sepanjang waktu, baik tengah malam atau tengah hari. Jadikan Al-Qur’an bagi kami sebagai hujjah, ya Robbal ’Alamin.
Ya Allah, anugrahkanlah untuk kami rasa takut kepadamu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepada-Mu. Janganlah Engkau jadikan musibah kami ada dalam urusan agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia ini adalah cita-cita terbesar dan puncak dari ilmu kami.
Ya Allah, jangan Engkau tinggalkan dosa, melainkan engkau ampuni, jangan berikan kesulitan melainkan Engkau berikan jalan keluarnya, jangan kau berikan hutang kecuali Engkau berikan kemampuan untuk membayarnya, dan jangan susupkan sebetikpun keinginan yang benar melainkan Engkau penuhi, ya Robbal ’Alamin. ”
”Tapi,
Yang fana adalah waktu, bukan?”
Tanyamu. Kita abadi
* Sapardi DM.
Rumah Kaca, 9 Mei, 2008, 21:09