Feeds:
Tulisan
Komentar

Jam 3 pagi

Ya robbi

Hamba yang sering hilang kemudi

Kadang tersesat dalam rimba jahat dunia

Tak tau sedang melangkah kemana

Meminta arah

Akankah Kau kabulkan ya Allah…

Hiks……

Ya ’alim

Hamba yang payah

Tak kuat menahan bujukan maksiat

Memohon kembali pada rambuMu

Mesti dengan satu syarat

”hamba tak kuat dengan tilangMu”

Akankah Kau kabulkan ya Allah…

Hiks…

Ya ghofar

Hamba yang tak tau diri

Tak pernah lupa ingkar janji

Hiks…

Ya kholik

Hamba yang terus berlari mengejar mimpi

Kadang terlalu asyik dengannya

Lupa pulang ya Allah

Hiks….

Hiks..hiks..hiks..

Nikmat ya Allah menangis..

Mengadu….

Dekap hamba dengan cahayamu

(tu kan nyuruh, enak banget…!!!)

Satu lagi ya Allah

Hamba yang selalu berdo’a

Menyuruh dan memaksa

Akankah Kau ampuni ya Allah…

Jatinangor, 9 November 2008

Puncak pendakian pertama

Dia memelukku begitu erat, meski kemudian tertawa kecil, seakan apa yang dilakukan barusan cuma bercanda. Hari ini ia sampai pada puncak pendakiannya yang panjang dan melelahkan. Fresh graduate, seorang sarjana perguruan tinggi terkemuka di negeri ini.

Saat dipeluk sejujurnya kurasakan perasaannya mengalir masuk, meresap tak beraturan, kemudian buncah menguap, seperti angin pagi yang ingin membagi dinginnya, kemudian bergumul dengan hawa dari tubuh kita. Aku jadi terharu hiks….

Tapi gara-gara gaya cengengesannya itu tak jadilah aku menangis.

Nah kawan, tahukah engkau… saat dipeluk itu aku jadi mengerti satu hal.

Bahwa kebahagiaan itu takan berkurang saat dibagi, malah bertambah berkali-kali lipat. Subhanallah.

Dan akhirnya meski tak kusampaikan, aku menyemai satu harapan atas moment berbahagia itu. Smoga engkau tak pernah bosan mendaki dan mendaki lagi sobat, karena “the dream that you dare to dream really do come true”

Jatinangor, 29 Oktober 2008

Ini sebuah kisah yang sering kali kita dengar. Bahkan mungkin pernah kita baca berkali-kali. Akan saya ceritakan ulang…. Tentang seorang gadis yang diberikan kesempatan berbelanja “cinta” di sebuah toko “Calon Suami”. Ada enam lantai di toko tersebut dengan masing-masing kelompok calon suami, setiap gadis yang masuk bisa memilih cintanya di setiap lantai dengan satu SYARAT: “Anda hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI” Dan jika sudah naik ke lantai berikutnya, sama sekali tidak boleh turun. Lalu, seorang gadis pun pergi ke toko “suami” tersebut untuk mencari calon suaminya.
LANTAI 1 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan dan taat pada Tuhan. Wanita itu tersenyum, kemudian dia naik ke lantai selanjutnya.
LANTAI 2: Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, dan sayang anak kecil. Kembali wanita itu naik ke lantai selanjutnya.
LANTAI 3: Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, sayang anak kecil dan cakep
banget. ” Wow”, tetapi pikirannya masih penasaran dan terus naik.
Lalu sampailah wanita itu di lantai 4 dan terdapat tulisan LANTAI 4: Lelaki di lantai ini yang memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, sayang anak kecil, cakep banget dan suka membantu pekerjaan rumah. ”Ya ampun !” Dia berseru, ”Aku hampir tak percaya.”
Dan dia tetap melanjutkan ke lantai 5 dan terdapat tulisan seperti ini: LANTAI 5: Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, sayang anak kecil, cakep banget, suka membantu pekerjaan rumah, dan romantis.
Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia melangkah terus ke lantai 6. Tapi apa yang dia temukan? Ya ampun hanya terdapat tulisan seperti ini: LANTAI 6: Anda adalah pengunjung yang ke-4.363.012. Tidak ada lelaki di lantai ini. Lantai ini hanya semata-mata bukti untuk wanita yang tidak pernah merasa puas. Terima kasih telah berbelanja di toko “Suami”. Hati-hati ketika keluar toko dan semoga hari yang indah buat anda.
Pesan moralnya? Kesempatan tidak datang dua kali. Terimalah cinta kita dengan sederhana, katakan dan jalanilah dengan sederhana pula. Dengan demikian, semoga cinta sejati kita justru membuat iri seluruh semesta alam.
Di ambil dari tulisan Tere Liye

“Kenapa kamu masih terus menulis di blog?” kalimat tersebut bukan muncul dari mulut orang lain, melainkan terlontar dari hatiku sendiri yang coba menemukan penguatan kenapa aku mesti terus menulis. Bagi sebagian orang mungkin saja menulis itu sudah sama pentingnya dengan buang air, tetapi tidak pada sebagian besar masyarakat Indonesia, atau jika mengambil sample masyarakat Indonesia sudah terlalu biasa karena tingkat pendidikannya yang rendah, bagaimana dengan lingkungan kampus yang notabene membaca dan menulis adalah sebuah tradisi?. Sudahkah menulis bagi sebagian besar mahasiswa dianggap penting?. Kalau saya diminta menjawab, maka seratus persen yakin jawabannya belum. Tentu saja yang saya maksud menulis disini bukan menulis SMS atau menulis bahan kuliah dari dosen. Menulis yang saya maksud adalah merespon apa yang terjadi disekitar kita, kemudian mencampurnya dengan pengetahuan, idealisme, dan prinsip yang ada dalam diri kita, baru kemudian outputnya berupa tulisan. Atau kalau bahasa Dian Sastro (kemaren baru berkunjung ke blognya) “berani memproduksi pikirannya sendiri”, belum mengerti juga, saya kasi bahasanya Ada band “saat dunia acuhkan dirimu / jangan ragu nyatakan sikapmu/ bawa semua angan dan harapan”.

Menulis diblog bagi bloger seperti seperti saya (temen2nya ga suka blog, bukan penjaga warnet (penjaga warnet aja sukanya Cuma friendsteran doang), trus miskin (buat makan aja susah apalagi buat ke warnet)) memerlukan energi kesabaran mandiri, ya artinya ibarat robot ia harus bisa cari setrum sendiri. Pun ketika menulis, inginnya sih berteriak kepada dunia, dan berharap dunia akan mendengarkan, tapi kenyataanya urang nu nulis, urang nu posting, urang keneh nu baca. Atu aing mah euy!

Lebaran

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

lebaran, mudik, ketemu ma keluarga, teman-teman lama, dan tempat-tempat yang menyimpan kenangan lama. ah… sepertinya semua orang ingin bercerita tentang itu…dan jadinyakan cerita yang standar. meski begitu daripada bengong, ga ada kerjaan (sebenernya buanyak banget kerjaan, hanya karena ini hari sabtu kan bisa dijadikan alasan), mau tidur baru aja bangun, dah ga ngantuk lagi, mau baca males bawaannya. ya udah cerita ajalah

Singkat cerita aku dah nyampe kampung yang nun jauh disana. Sehabis ngobrol dan basa-basi sebentar, aku tidur pules pisan, serasa dibuai kampung pertiwi setelah setahun lontang-lantung dibandung. lelah….

Dan singkat cerita lagi aku dah nyampe di Bandung pengen lelah lagi, ntar dibuai lagi…..

Kemaren baru berkunjung ke blognya Dian Sastro, ada salah satu tulisannya yang bermutu, dan kayaknya layak untuk sebar lebih luas lagi, Dia bilang “Impian saya generasi muda Indonesia adalah individu-individu yang berani berpikir, berani belajar, dan yang paling penting berani memproduksi pikiran mereka sendiri. Karena mereka memiliki kebebasan itu. Kebebasan berpikir adalah bentuk kemerdekaan yang dahsyat yang pernah dimiliki oleh umat manusia.”

Ada satu kalimat lagi yang jauh lebih berisi “Marilah kita bersama-sama menghormati dan mensyukuri daya pikir dan akal sehat yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kita dengan satu cara yaitu: menggunakannya.”

Mantabkan?, btw menurutku kadang pemikiran mbak Dian tu bagus, tapi lebih sering kayak artis yang lain. Menurutku lho..!

Ciptagelar dan Ciptarasa

KADO

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:

memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga

sampai pada suatu hari

kita lupa untuk apa.

- Sapardi Djoko Damono, 1978

Kupikir ini terlambat, tapi terlambat karena apa, bukankah waktu selalu berulang, hari ini, kemaren, besok, toh kita juga menatap matahari yang sama, matahari yang ingin kau lipat itu, matahari di tahun barumu.

Bro, entah apakah penting untuk memulai tahun baru, tapi kurasa aku setuju seperti kebanyakan orang yang memperingatinya, karena kita abadi, dan waktulah yang fana. Pun ku kira kau juga menganggapnya begitu, aku menerkanya saat kau berusaha merasakan detik pertamanya, bersama sunyi, bersama jari yang mewakili mulut berbicara, bersama kenangan yang telah berdiri pada tempat keabadiannya. Maka aku terkesiap, terharu. Lalu apa yang bisa kuhadiahkan untukmu, atau ini sajalah dulu, terimalah apa ala kadarnya, kuharap kau suka, mungkin kau sudah membacanya atau menulisnya, tidak apa-apalah.

DALAM DIRIKU

dalam diriku mengalir sungai panjang,

darah namanya;

dalam diriku menggenang telaga darah,

sukma namanya;

dalam diriku meriak gelombang sukma,

hidup namanya!

dan karena hidup itu indah,

aku menangis sepuas-puasnya

- Sapardi Djoko Damono, 1980

Bro, entah berapa lama waktu telah membungkus kita dalam kepompongnya, masa itu aku juga lupa, diriku, atau dirimu yang pertama menyapa, yang jelas kita telah banyak belajar bersama, belajar mengurai makna yang berpendar dalam cahaya, belajar mengeja dunia dalam cinta dan kebijaksanaan-Nya, belajar bagaimana peliknya menjalani keseharian hidup, menyeimbangankan ego dan kesetiakawanan, belajar menjadi hamba yang tau bersyukur, bersyukur pada setiap garis takdir, nikmat, hidayah yang seringkali tidak kita sadari. Dan karena kita telah banyak belajar bersama, maka ijinkan aku seperti syairnya sheila on seven ”memegang pundakmu”, mungkin saja kau lelah, telah berjalan 23 tahun lamanya. Aku coba sambungkan nasehat orang yang selama ini sering kita kecewakan, karena kita tak jua menjadi pemuda yang dibanggakan. Barangkali bisa jadi penawar, di belantara, di kereta, atau di dalam kamarmu yang sempit itu.

TIGA PENGHANCUR DAN PENYELAMAT

Rosulullah saw bersabda; ”Ada tiga penghancur, tiga penyelamat, tiga penebus, dan tiga derajat.

Adapun tiga penghancur adalah:

Pertama, kekikiran yang ditaati

Kedua, hawa nafsu yang diikuti.

Ketiga, bangganya seseorang terhadap dirinya sendiri.

Tiga penyelamat adalah:

Pertama, adil dalam keadaan marah dan ridha.

Kedua, hemat ketika miskin dan kaya

Ketiga, takut kepada Allah ketika sendiri atau bersama.”

– (HR. Thabrani dan Abu Nu’aim, dihasankan oleh syekh Albani)

Bro, kau tau bahwa aku orang yang percaya terhadap kemanjuran do’a, mungkin kelak kau dapat mengambil bintang, kemudian membagi-bagikannya, atau menyimpan matahari dalam lacimu, kemudian menggunting jilatannya agar rapi, terserah kaulah, lahuu da’watul haqq (Qs:13;14), tapi jangan kuatir,kan ku amini.

Bro, yang terakhir, mungkin kau beri kesempatan kepadaku untuk berdo’a sebelum musim menanggalkan daun* maka resapilah partikel-partikel kecil yang sepi, namun berenergi sangat tinggi, melesat tak beraturan menembus masa depan. Aku begitu suka do’a ini, entah apa hajatnya maka akan aku bunyikan selalu:

Ya Allah, dengan Al-Qur’an, karuniakanlah kasih sayang-Mu kepada kami. Jadikan Al-Qur’an sebagai imam, cahaya, hidayah, dan sumber rahmat bagi kami. Ya Allah, ingatkan kami bila ada ayat yang kami lupa mengingat-nya. Ajarkan pada kami, ayat yang kami bodoh memahami-nya. Karuniakan kepada kami kenikmatan membacanya, sepanjang waktu, baik tengah malam atau tengah hari. Jadikan Al-Qur’an bagi kami sebagai hujjah, ya Robbal ’Alamin.

Ya Allah, anugrahkanlah untuk kami rasa takut kepadamu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepada-Mu. Janganlah Engkau jadikan musibah kami ada dalam urusan agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia ini adalah cita-cita terbesar dan puncak dari ilmu kami.

Ya Allah, jangan Engkau tinggalkan dosa, melainkan engkau ampuni, jangan berikan kesulitan melainkan Engkau berikan jalan keluarnya, jangan kau berikan hutang kecuali Engkau berikan kemampuan untuk membayarnya, dan jangan susupkan sebetikpun keinginan yang benar melainkan Engkau penuhi, ya Robbal ’Alamin. ”

”Tapi,

Yang fana adalah waktu, bukan?”

Tanyamu. Kita abadi

  • Sapadi Djoko Damono, 1978

* Sapardi DM.

Rumah Kaca, 9 Mei, 2008, 21:09

Rencana Indah

Aku mengucek-ngucek mata, ternyata tidak sedang bangun dari tidur, aku melihat ke tangan, kosong, aku juga tidak sedang memegang buku dan membaca ceritanya, berarti semua ini nyata, nyata ya Allah….

sore ini nampaknya Allah berbaik (meskipun Allah selalu berbaik)menunjukan satu pelajaran yang begitu penting, “rencana indahNya atas kehidupanku”.

Tempat tinggalku berjarak lumayan jauh dari keramaian, kalau mau menuju kesitu harus mendaki. Jika hari menjelang petang jarang orang yang lalu lalang, apalagi angkutan, jelaslah tidak ada batang sepionnya. Sore itu aku berniat ke warnet untuk mengerjakan sebuah tugas, tugasnya harus sudah selesai pagi harinya. Setelah berjalan lumayan jauh, aku tersadar kalau flashdiskku ketinggalan, sudah kepalang tanggung terlalu jauh aku lanjutkan saja perjalanan, ntar bisa minjam ke teman di keramaian pikirku. Sampai keramaian aku langsung menuju kerumah teman pertama, orangnya tidak ada. Akupun menuju rumah teman yang kedua, kali ini orangnya ada, flashdisknya juga ada tetapi dia sendiri sedang make jadi tidak bisa dipinjam. kulanjutkan lagi perjalanan. Karena adzan sudah berkumandang, kebetulan, biasanya di masjid ada beberapa teman yang sholat berjama’ah disitu, aku sholat maghrib dulu. Setelah sholat aku lihat para jama’ah, tidak satupun teman-teman yang aku harapkan ada nongol, ahh… nasib.

Pikiranku sekarang tertuju pada rumah dimana semua penghuninya adalah temanku, sebut saja rumah A. Kali ini pasti dapat flasdisk pikirku, tapi rumah itu jauh banget, males baliknya kata hatiku. Sebenarnya sepanjang perjalan menuju rumah A, banyak kos-kosan teman-temanku juga, tapi kemungkinan flshdisknya bisa dipinjam juga masih fivety-fivety, selain itu tempat persis kamar mereka aku juga belum tau, hanya tau rumahnya saja, sementara hp sedang tidak ada pulsanya. Akhirnya aku putuskan bahwa rumah A adalah alternative terakhir.

Dalam perjalan terlintas sebuah pikiran, “biasanya jika ada peristiwa seperti ini Allah akan memberi kejutan, seperti dalam film-film, atau cerita-cerita yang saya baca”. Dalam perjalanan aku melewati kosan teman ke-tiga, sepi dan gelap, berarti orangnya lagi ngga ada, meskipun begitu hatiku masih berharap bisa ketemu dijalan dengan teman ke-tigaku tersebut. Eee… subhanallah bener, baru beberapa langkah berjalan aku ketemu dengan dia. Alhamdulillah cobaanku berakhir sudah, terasa lega hatiku karena harapannya terkabul. Langsung aku sampaikan maksudku untuk meminjam flashdisk. Ternyata flashdisknya juga tidak bisa dipinjam, ya Allah…

Ya sudahlah, kayaknya aku memang harus kerumah A. niatku sudah bulat dan aku sudah tidak berharap untuk mampir atau ketemu dengan salah seorang temanku ditengah perjalanan. Sampai dirumah A langsung aku sampaikan maksudku ke salah seorang teman, karena aku juga tidak ingin berlama-lama. Tapi…tanpa kusangka-sangka salah seorang teman yang baru sidang komprehensif dalam rangka menyelesaikan pendidikan sarjananya mengundangku untuk syukuran di sebuah rumah makan. Jika aku menerima undangan tersebut secara tidak langsung aku di antar ke warnet, dan perjalanan pulangku menjadi lebih ringan. Subhanallah…. Ternyata inilah rencanamu ya Allah……, maha sempurna Engkau dengan segala rencanamu terhadap alam semesta ini.

Jatinangor, 12 Agustus 2008

Mana?

Manakah kini kau yang tak bersarang

Ingin bebas lepas tanpa batas

Manakah kini kau yang ingin mendaki

Puncak-puncak tertinggi

Manakah kini kau yang bersuara lantang

Tentang mimpi-mimpi yang ingin kau buktikan

Lalu kemana kau ingin pergi semua

Ah…. ternyata…

Begitu kecil tak berdaya

Tergolek tak berdaya karena abses skrotal

Cibiru, 16 Februari 2008

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »