Feeds:
Pos
Komentar

Puisi Cinta Sayyid Qutb

Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engkau mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-MU, telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya.

Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

(As-Syahid Sayyid Qutb)

Cinta Sesungguhnya #2

Pagi tadi aku membaca matsnawinya Rumi, membuka halamannya dan menemukan kisah tentang “Nyanyian alang-alang” dilembar pertamanya. Sebuah seruling, yang terpisah dari kebun alang-alang, tersedu sedan karena merindukan rumahnya itu, dan dengan begitu seruling tersebut mengungkapkan rahasia cinta abadi.

Apa yang terungkap?, aku berhenti, merenungkan nyanyian alang-alang. Tapi malah teringat tentang kisah seorang muda yang meyakini bahwa setiap kehidupan ditakdirkan memiliki satu cinta sejati. Suatu ketika ia bermimpi, mimpi itu terulang lagi pada hari berikutnya. Lalu ia memutuskan untuk mengikuti impiannya itu. Mimpi itu berkisah tentang menemukan cintanya yang berada di kairo, ada cinta yang telah menantinya di sana.

Pemuda tersebut menjual semua harta yang dimilikinya untuk bekal ke kairo, namun malang tak bisa ditolak, baru memulai perjalanan melewati satu kota, uangnya sudah dicuri orang. Kini ia tak memiliki apapun, ia memutuskan bekerja pada penjual Kristal untuk mengumpulkan kembali bekal menemukan cinta impiannya.

Peruntungan pemuda itu baik dalam bisnis, ia mengenali pertanda. Bahasa tanpa kata-kata. Suatu sore dia melihat seorang pria di atas bukit, yang mengeluh bahwa susah sekali menemukan tempat yang  layak untuk mendapatkan minuman setelah letih mendaki.

“Mari kita jual teh untuk orang yang mendaki bukit” kata pemuda kepada penjual Kristal

“Sudah banyak penjual teh di sini” jawab penjual Kristal datar

“Tapi kita bisa menjual teh dalam gelas Kristal, orang akan menikmati tehnya dan membeli gelas kristalnya. Aku pernah diberitahu bahwa kecantikan adalah penggoda terbesar bagi lelaki” sambung pemuda

Berbulan-bulan kemudian kedai teh itu menjelma menjadi super besar yang mempekerjakan banyak orang. Sang pemuda juga telah memiliki cukup bekal untuk melanjutkan perjalanan menemukan cinta sejatinya di kairo. Dia memutuskan pergi meski penjual Kristal ingin menahannya dengan gaji  besar. Ia ikut bersama rombongan kafilah dagang menuju Kairo.

Ditengah perjalanan rombongan berhenti disebuah oasis. Gurun tidak mudah ditaklukan, semua orang perlu beristirahat memulihkan tenaga, sekaligus memperbaharui bekalnya. Pada waktu itu senja tiba, kata orang-orang tak ada yang lebih indah selain melihat matahari pulang melewati gurun. Tapi sang pemuda tak percaya lagi dengan kata orang-orang setelah bersitatap dengan sepasang mata. Seorang gadis gurun melewatinya.
“Ini lebih indah” kata pemuda dalam hati.  Waktu seakan berhenti saat gadis itu tersenyum kepadanya, hatinya seperti bercakap langsung dengan hati sang gadis  dalam bahasa yang tak dimengertinya. Bahasa yang mungkin lebih tua dari gurun itu.

“Apakah ini kairo” sang pemuda berucap menyapa gadis gurun

“Bukan, Kairo masih setengah bulan perjalanan dari sini” Jawab gadis gurun sambil tersenyum meninggalkannya.

Semalaman sang pemuda tak bisa tidur, ia tak habis pikir, kenapa telah menemukan cintanya sebelum Kairo. Mana yang salah, apakah mimpinya atau hatinya.  Hari berikutnya ia menunggu gadis gurun ditempat kemaren ia bertemu, namun gadis gurun tak datang. Ia mencoba lagi esok berikutnya, dan gadis gurun tak datang juga. Ia mulai menyadari bahwa hatinya yang telah salah mengenali cinta, namun tiba-tiba ada sepucuk surat untuknya yang dibawa penunggang kuda.

“Apakah kau menungguku?, ketahuilah bahwa lelaki tidak menunggu, lelaki harus datang” bunyi surat itu “datanglah dan mintalah ke ayahku” disambung  alamat pengirimnya.

Sang pemuda datang dan menceritakan semuanya, tentang mimpi dan perjalanannya.

“Bila aku sungguh-sungguh cinta sejatimu, kamu akan menemukanku di Kairo, atau kau akan kembali suatu hari” Jawab gadis gurun

Pemuda melanjutkan perjalanannya menuju Kairo. Sesampai di sana, ternyata sedang dalam kondisi perang. Pemuda itu di pukuli oleh para prajurit yang sedang berpatroli, ia disangka sebagai mata-mata musuh. Kemudian ia dibawa menghadap pemimpin mereka. Pemuda itupun menceritakan mimpinya pada sang komandan yang mendengarkannya dengan antusias.

“Aku percaya padamu” kata komandan “ namun sebagai lelaki kamu harus belajar untuk tidak bodoh, dua tahun yang lalu aku juga mendapatkan mimpi yang berulang. Aku bermimpi, bahwa aku harus berkelana melintasi gurun. Dalam mimpiku ada cinta sejati yang membuatku bahagia, sedang menungguku di sebuah rumah di bagdad sana. Tapi aku tidak begitu bodoh menyebrangi gurun hanya karena mimpi”

Pemuda itu terperanjat karena komandan menyebutkan alamat rumah tempat ia tinggal di bagdad. Kini sang pemuda mengerti di mana cintanya berada.

Kisah diatas saya adaptasikan dari novel bestseller internasional yaitu sang alkemis. Maknanya dalam, simpulannya jelas bahwa cinta yang selama ini kita cari berada dalam diri kita sendiri. Kita memiliki kemampuan mencintai apapun kapan saja kita mau, tapi dalam fikiran kita ada aturan mental yang harus terpenuhi sebelum kita mengijinkan cinta itu keluar. Seperti air mata yang keluar ketika sedih.

Namun yang paling ditekankan dalam kisah diatas adalah bahwa sebelum cinta ditemukan perjalanan haruslah ditempuh. Seorang murid bertanya kepada gurunya, “Kenapa perjalanan harus ditempuh?”

“Karena dengan begitu ia akan faham cinta yang sejati. Seperti berlian, siapapun takan pernah tahu bahwa itu adalah berlian sebelum ia mengalami tekanan yang begitu besar dalam waktu lama”

Berlian menempuh perjalanan spiritual memurnikan dirinya sebelum ia diakui sebagai berlian yang sesungguhnya.

Lalu bagaimana dengan nyanyian alang-alang?. Di cinta sesungguhnya #3 kita akan menyelami pemahaman tentang cinta menurut Rumi. Wallahu’alam

Bandung, 2 Desember 2012

Cinta Sesungguhnya #1

Dahulu kala, sebelum manusia diciptakan, sifat-sifat mereka sudah diciptakan terlebih dahulu. Mereka ditempatkan di sebuah pulau. Sifat-sifat ini berdiri sendiri dengan ciri khasnya masing-masing. Optimisme, Pesimisme, Pengetahuan, Kemakmuran, Kesombongan, Cinta, dan sifat-sifat yang lainnya.

Namun suatu ketika ada pemberitahuan bahwa pulau itu akan tenggelam pelan-pelan. Sifat-sifat ini dilanda kepanikan. Mereka segera menyiapkan perbekalan dan bersiap-siap meninggalkan pulau dengan perahu yang mereka miliki.
Cinta belum siap. Dia tidak memiliki perahu sendiri. Mungkin dia telah meminjamkannya pada yang lain dan lupa meminta lagi. Akhirnya cinta menunda keberangkatan pada saat-saat terakhir.  Dia menyibukan diri dengan membantu sifat-sifat yang lain bersiap-siap.

Setelah sebagian besar sifat meninggalkan pulau, akhirnya cinta memutuskan untuk meminta bantuan. Kemakmuran baru saja akan berangkat dengan perahu yang besar lengkap dengan teknologi mutakhir.
“Kemakmuran, bolehkah aku ikut denganmu?” tanya Cinta.
“Tidak bisa,” jawab Kemakmuran. “Perahuku sudah penuh dengan seluruh emas, perak, perabotan antik, dan koleksi seni. Tak ada ruang untukmu di sini.”
Lalu Cinta minta tolong pada Kesombongan yang lewat dengan perahu yang indah, bertabur emas berlian.

“Kesombongan, sudikah engkau menolongku?”
“Maaf,” jawab Kesombongan, “Aku tak bisa menolongmu. Lihatlah dirimu, basah kuyup dan kotor. Bagaimana nanti dengan perahuku yang mengkilat ini. Sungguh tak cocok jika kau ada disini.”
Cinta melihat Pesimisme yang sedang bersusah payah mendorong perahunya ke air. Pesimisme terus-menerus mengeluh soal perahu yang terlalu berat, pasir terlalu lembut, air terlalu dingin. Dan kenapa pulau ini mesti tenggelam? Kenapa semua kesialan ini harus menimpanya? Meski Pesimisme mungkin bukanlah teman perjalanan menyenangkan, Cinta sudah sangat terdesak. Ia akan ikut tenggelam jika tak segera mencari tumpangan. Dan bagaimana nasib manusia nanti tanpa cinta.
“Wahai Pesimisme, bolehkah aku menumpang perahumu?”
“Oh, Cinta, kau terlalu baik untuk berlayar denganku. Perhatianmu membuatku merasa lebih bersalah lagi. Bagaimana nanti kalau ada ombak besar yang menghantam perahuku dan kau tenggelam? Oh tidak cinta, aku tidak tega mengajakmu. Maafkan aku”

Pesimisme pergi dengan segala keluh kesahnya yang membuat suasana semakin muram. Tapi Cinta tak mau berputus asa.
Ia melihat perahu optimisme. Itu mungkin karena Optimisme tak terlalu percaya tentang bencana dan hal-hal buruk, termasuk bahwa pulau ini akan segera tenggelam makanya ia  termasuk yang paling akhir meninggalkan pulau.  Cinta berteriak memanggilnya, tetapi Optimisme tak mendengar. Ia terlalu sibuk menatap  ke depan dan memikirkan tujuan berikutnya. Cinta memanggilnya lagi, tetapi bagi Optimisme tak ada istilah menoleh ke belakang. Ia terus berlayar ke depan.

Cinta mulai pasrah, namun Pada saat itu, dia mendengar sebuah suara memanggilnya. “Wahai cinta, Ayo naiklah ke perahuku!”

Akhirnya ada juga yang mengajaknya, Cinta bersyukur. Ia merasa lelah sekali sehingga langsung tertidur. Ia tertidur sepanjang jalan sampai nakhoda kapal mengatakan mereka sudah sampai di daratan kering. Ia begitu berterimakasih, meloncat turun, dan melambaikan tangan kepada nakhoda baik hati itu. Tapi ia lupa menanyakan namanya…ah….Cinta begitu menyesal sekali. Namun dia ingat, bahwa ditempat barunya ada yang serba tahu segala urusan.

“Pengetahuan pasti tahu nama pemilik perahu yang begitu baik hati tadi” bisiknya dalam hati

Segera saja ia pergi mencari Pengetahuan dan bertanya, “Wahai Pengetahuan, siapakah gerangan tadi yang menolongku sampai disini?”
“Itu tadi Waktu, Cinta” jawab Pengetahuan dengan ramah.
“Waktu?” tanya Cinta. “Kenapa Waktu begitu berbaik hati, ketika yang lain meninggalkanku?”
Pengetahuan tersenyum dan menjawab, “Sebab hanya Waktu yang mampu mengerti betapa hebatnya Cinta.”

27, November 2012, Diceritakan kembali dari dongeng-dongeng metafora masa dahulu.

Gelisah

Ada yang pelan-pelan menyelinap di hati. Rasa gelisah. Dua bulan lalu aku memutuskan resign dari tempat kerja, selain karena masa kontraknya sudah habis, tentu saja karena ada berbagai macam pertimbangan kenapa tidak memperpanjang kontrak. Seharusnya aku mencari pekerjaan yang baru, tapi itu tak kulakukan, karena telah kuputuskan bulat-bulat akan berwirausaha. Rasanya aku sudah memikirkan dengan sangat  baik sekali tentang keputusan yang telah kuambil.Coba kuingat kembali, apa kiranya yang membuat hatiku aklamasi untuk berwirausaha.

Sebentar lagi, meskipun tak bisa kutentukan waktunya aku akan berkeluarga. Memiliki istri, kemudian istri hamil, terus anak tumbuh semakin besar, lalu bersekolah, kemudian hamil lagi, dan seterusnya. Konsekuensinya pendapatanku harus semakin banyak dengan bertambah banyaknya tanggungan. Perkara lain, bahwa semua sudah membawa jatah rizkinya masing-masing. Karena kita sudah sepakatkan kalau rizki itu perpaduan yang indah antara kehendak-Nya, ikhtiar, dan do’a kita. Bercermin dari itu, serta melihat realitas harga waktuku sekarang. Aku akan kualahan dengan tanggungan-tanggungan yang akan datang. Belum juga mimpi-mimpi yang belum tertunaikan, tentu saja semuanya tidak gratis alias ada harganya. Bukankah ada pepatah menarik bahwa gagal merencanakan, berarti merencanakan kegagalan. Tentu saja aku tidak ingin menjadi orang yang gagal di masa depan.

Maka terburu-buru aku, membuka-buka lagi referensi masa lalu. Robert T Kiyosaki, Valentino Dinsi, Tung Desem Waringin, Muhammad Syafi’a Antonio, Ustadz Yusuf Mansur. Aku temukan banyak motivasi di sana. Dan dalam pencarian itulah aku menemukan pencerahan. Pertanyaan yang begitu menggelitik akal dan passion. “Setiap orang diberikan waktu yang sama 24 jam, ada yang dengan 24 jam itu ia mampu memproduksi banyak kebaikan. Tapi ada juga yang dengan 24 jam itu mengurus dirinya sendiri saja tidak mampu, lalu kau di posisi yang mana?”. Kemudian aku berfikir dengan pekerjaanku sekarang, waktuku yang 24 jam sudah hampir habis, dan rasa-rasanya banyak kebutuhan yang belum tercukupi. Oh, bagaimana aku memproduksi kebaikan kalau begitu. Mungkin nanti ketika aku sudah beristri, waktuku akan benar-benar habis untuk bekerja. Aku jadi takan sempat merealisasikan rencana menunggunya membuatkan sarapan pagi sambil membaca koran seperti dalam film-film itu, kemudian mereka-reka kata yang pas untuk memuji masakannya. “Ah sayang, kuahnya jernih seperti matamu…” aih…gombal pisan. Atau ketika si dia bertanya retoris bagaimana rasa masakannya “Wah…seperti mengaduk-ngaduk lidahku ay”. Atau yang paling menyesatkan “…aku minumnya air agak panas dan ga usah dikasih gula aja dek”, sontak si dia akan bilang “knapa mas?” sebagai suami nan romantis bilang begini “soalnya wajahmu itu loh dek sudah sangat menyejukan, dan senyummu tak ada yang mengalahkan manisnya” gubrak…

Kembali lagi ke kata gelisah tadi. Aku paham sekarang, hati manusia itu memang mudah sekali gamang, gampang terbolak balik karena informasi yang masuk. Karena realitas hari ini yang tidak sesuai dengan yang kita inginkan. Itulah barangkali yang menginspirasi seorang ulama untuk bertuah bahwa “pandangan mata selalu menipu, pandangan akal selalu meluruh, pandangan hati itu yang hakiki”. Maka gelisahku segera terkurangi karena dengan hati yang memandang dan meyakini bahwa Allah maha pemurah, dan sebaik-baik pembagi rizki.

Sebenarnya tak ada yang terlalu mengancam. Aku masih bekerja part time malam hari. Menerima gaji setiap bulan,

meskipun terkadang telat, Alhamdulillah masih mencukupi untuk hidup. Namun entahlah…

Saat-saat seperti ini, aku menjadi ingat dengan bapak, barangkali perasaan-perasaan itu yang sering membuatnya duduk sendiri, memandang langit yang semakin meredup. Menghisap rokoknya begitu dalam, kemudian menghembuskannya. Bisa jadi asap rokok baginya bisa memancing pekat dalam dadanya untuk keluar. Meringankan beban yang menindih perasaannya.

Yah…tentu saja ini hanya cuaca hati, aku hanya perlu menerimanya kemudian mebuat respon yang positif. InsyaAllah dengan hati yang memandang kemurahanNya, semua akan berjalan baik-baik saja

Aku hanya berusaha ya Robb, berjalan menuju impian baik yang Kau ilhamkan. Menghadapi semua masalahnya, dan dengan rahmatMu akan Kau atasi semuanya…ami

Agustus 2011

Seorang anak dan ayahnya sedang berjalan diatas gunung. Tiba tiba, anaknya terjatuh, Dia terluka dan berteriak : “AAAhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!.” Tetapi Ia sangat kaget mendengar ada suara pantulan dari gunung sebelah.”AAhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!.”

Dengan penuh rasa penasaran, diapun kembali berteriak : “Siapa kamu?” Diapun menerima kembali jawaban yang sama : Siapa kamu?” dan kemudian dia berteriak ke gunung itu: “Saya mengagumimu!” dan suara itupun kembali : “Saya mengagumimu!.”

Dengan muka marah pada jawaban itu, dia berteriak : “Penakut” Dia masih menerima jawaban yang sama, “Penakut!.”

Dia menatap ayahnya dan bertanya : “Apa yang sedang terjadi?” Ayahnya sembari tersenyum dan berkata : “Sayang, perhatikan.” Kembali ayah akan berteriak : “Kamu Juara.” Diapun menerima jawaban yang sama : “Kamu Juara.”

Anak ini kembali kaget dan tidak mengerti mengapa itu bisa terjadi, kemudian Ayahnya menjelaskan bahwa itulah yang disebut dengan ECHO (Gema suara), tetapi itulah sesungguhnya hidup.

Segalanya akan kembali kepada kita, apa yang kita katakan, apa yang kita lakukan. Hidup kita secara sederhana adalah gambaran dari kelakuan yang kita perbuat.

Jika kamu ingin lebih banyak cinta dalam dunia,
maka ciptakanlah Cinta dalam Hatimu.
Jika Kamu ingin lebih berkemanpuan dalam timmu,
maka tingkatkanlah kemampuanmu
“Hidup akan memberikan kembali kepadamu, apa yang telah kamu berikan kepadanya. Dalam segala hal.”

Just the Way You Are

Pada fase-fase kehidupan kita, pastilah ada masa-masa suram. Masa ketika kita merasa tak berguna, lemah, dan seakan menjadi orang yang paling menderita di dunia. Pikiran kita sendiri yang sering memojokan kita. “Andai saya cantik seperti dia, pasti sudah menikah dari dulu. Sudah punya anak, dan hidup dengan bahagia” entah darimana, tetapi bisikan-bisikan itu selalu saja muncul. Atau “ Andai saya pintar, kaya, dan ganteng seperti dia, pasti si manis itu sudah mau dari dulu untuk saya nikahi”. Atau   “Andai saya dulu menikah dengan bang Midun, mungkin hidup saya tidak akan seperti ini”. Atau “ Alangkah bahagianya jika memiliki anak-anak yang lucu-lucu seperti mereka” , dan atau-atau yang lain. Memang tidak akan ada habisnya, bisikan itu selalu muncul dan membuat kita tertekan. Bahkan  banyak orang yang menderita depresi berat hingga gila karena bisikan-bisikan itu.

Jaman dahulu ada cerita yang sangat menarik, tersebutlah seorang tukang batu. Ia bekerja di sebuah tambang batu di tebing yang kokoh. Ketika malam hari sehabis bekerja, ia selalu mengeluh kepada istrinya.

“Andai saja dulu ketika masih muda kita mau merantau, mungkin kehidupan kita tidak akan seperti ini mbokne!”

Pekerjaannya memang berat. Ketika musim panas, ia harus rela dipanggang setiap hari, hanya demi uang recehan yang buat makan saja kadang tidak mencukupi. Saat musim hujan, ia juga harus rela tubuhnya basah dan merasakan dingin seperti diselimuti salju.

Pada suatu sayup-sayup senja sehabis bekerja ia berjalan gontai menuju rumahnya. Kali ini ia mengambil jalan yang berbeda. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan sebuah rumah megah yang baru ditemuinya waktu itu. Ia penasaran dan mengintip ke dalam rumah tersebut. Dilihatnya seorang yang gagah dengan masih mengenakan jaz dan dasi. Istrinya tampak begitu jelita dan anggun. Mereka menghadapi sebuah meja dengan makanan yang berlimpah, berbagai macam lauk ada di sana. Minumannyapun beragam. Ada berbagai macam merk minuman ringan, susu, coklat, dan juz. Buah-buahan yang begitu segar membuat ia menelan air liur. Dia berfikir “ Seandainya saya lelaki itu…”

Ketika sedang asik mengintip tiba-tiba ada sebuah botol kecil jatuh tepat di depannya. Ia lihat sebentar dan membuka tutupnya. Alangkah terkejutnya ia ketika didepannya sudah berdiri sosok tinggi besar seukuran tiga kali tubuhnya

“Terimakasih tuan telah menolong saya, sekarang sebutkan apapun permintaan tuan!” kata sosok tinggi besar tersebut

“Saya minta, apapun yang saya bayangkan bisa menjadi kenyataan” katanya tanpa pikir panjang

“Sim salabim, abracadabra” ditiupnya kepala tukang batu itu “Sekarang apapun yang tuan bayangkan, akan menjadi kenyataan”

Hal pertama yang ingin diwujudkan oleh tukang batu itu adalah menjadi seorang gagah yang memiliki rumah megah dengan istri yang cantik jelita. Ia membayangkan sebentar dan jadilah dia. “Ajaib” katanya

Ia sangat menikmati kehidupan barunya. Sekarang dia bisa seharian tidur, dan tinggal teriak maka apapun akan terhidang dihadapannya. Namun ia menggunakan kekuasaannya dengan semena-mena dan congkak.

Suatu hari  seorang bintang film terkenal datang berkunjung ke tempat lelaki kaya tersebut. Ia begitu kagum dengan bintang film itu karena semua orang di daerah itu begitu menyanjungnya, bahkan rela mengantri seharian hanya untuk berfoto bareng. Maka ia berfikir alangkah bahagianya jika menjadi bintang film terkenal itu. Lalu ia membayangkan menjadi sang artis. Dan jadilah dia bintang film terkenal. Kehidupan menjadi seorang artis ia lalui sampai suatu ketika ia melihat seorang senior artis yang menjadi kepala daerah. Ia berfikir bahwa ia sudah terkenal, tapi belum berkuasa secara penuh. Maka seperti yang sudah kita ketahui, ia hanya tinggal membayangkan saja menjadi presiden. Jadilah dia seorang presiden.

Ia memanfaatkan kekuasaanya menjadi presiden dengan berkunjung ke berbagai negara. Dalam sebuah perjalanan ia harus melewati sebuah gurun yang panas sekali. Ia tidak tahan dan kemudian berfikir, “ Matahari lebih hebat daripada presiden”.

Keajaiban yang sebelumnya selalu bisa mengubahnya menjadi apapun yang ia bayangkan, kali ini juga bekerja. Ia sudah berada tinggi dilangit, begitu berkuasa. Ia tertawa cekikikan ketika melihat semua yang ada di dunia layu dengan sengatan sinarnya. Bahkan artis dan presiden harus tunduk mengaku kalah dengan kekuatan yang dimilikinya. Namun tiba-tiba ada segumpal awan yang menghalanginya. Ia marah besar, karena ternyata kekuatannya masih bisa dikalahkan awan. Maka sekali lagi ia membayangkan menjadi awan komulu nimbus yang hitam menakutkan. Ia bisa menhujani bumi dan membuatnya banjir dimana-mana. Dalam waktu sekejap ia mampu mengubah bumi yang tadinya begitu panas menyengat menjadi dingin yang membekukan. Ia juga bisa menciptakan petir yang menyambar-nyambar. Membuat semua orang mengkerut takut saat mendengarnya. Ia berseru girang

“Inilah puncak kekuasaan!”.

Namun alangkah terkejutnya ia, ketika angin tiba-tiba bertiup kencang menyeret awan menuju tempat yang tidak diinginkannya. Awan tak berdaya sama sekali melawan tiupan angin. Dia kembali berfikir bahwa angin ternyata lebih hebat darinya yang sedang menjelma awan. Dalam tempo sekejap iapun mampu merubah dirinya menjadi angin ribut yang mampu memporak-porandakan apapun. Dia bisa meratakan sebuah kota dalam sekali tiup. Ia bisa menjatuhkan pesawat dengan mudah. Menciptakan ombak tinggi hingga menenggelamkan kapal. Membuat roboh gedung-gedung pencakar langit, dan mencabut kayu besar dengan pusarannya.

“Inilah hidup” katanya pongah

Hingga pada suatu hari, tiupannya yang ganas berhenti begitu saja di depan sebuah tebing yang menjulang tinggi. Ia mencoba berkali-kali dengan segala kekuatan yang dia miliki, tapi percuma. Tebing itu tetap berdiri kokoh tak tergoyahkan.

“Karang….., bisa menghentikan angin. Aku akan menjadi karang saja” saat itu juga ia berubah menjadi karang yang kukuh tak tergoyahkan, bahkan oleh angin seganas apapun.

“Inilah yang paling hebat” pikirnya. “Aku menemukannya sekarang. Aku akan bahagia menjadi karang”

Pikiran tersebut baru saja terlintas, tiba-tiba ada seseorang yang berkulit legam sedang memahat dirinya. “Tak…tak…tak”

Maka begitulah hidup. Ketika kita melihat sesuatu yang tampak hebat, pikiran kita secara otomatis  membuat perbandingan. Kemudian menilai apa yang kita miliki saat ini kurang berharga. Kita menjadi tidak ikhlas menerima diri kita apa adanya hanya karena kita tidak mengenal diri kita secara utuh. Dan yang terjadi kemudian adalah kita terobsesi dengan milik orang lain yang tidak mungkin kita miliki. Misalnya hidung yang mancung, bulu mata yang lentik, atau kulit yang putih bersih.

Jika kita sepakat bahwa mencintai itu adalah kata kerja, maka cinta bisa dimunculkan. Kita bisa memilih mencintai diri sendiri tanpa menunggu rasa cinta itu muncul. Namun rasa cinta tidak akan pernah bisa sejati tanpa penerimaan yang utuh. Mencintai diri sendiri berarti didahului dengan menerima segala keterbatasannya.

Hidup ini adalah anugerah, namun bukan yang terindah. Karena anugerah terindah adalah kesadaran bahwa hidup kita ini adalah bentuk kasih sayang Tuhan. Dan kesadaran yang terindah adalah ketika kita bangun disuatu pagi, dalam keadaan sehat wal afiat, kemudian merasakan syukur dan kebahagiaan yang mejalar kedalam hati. Kita berdo’a lirih “Tuhan sungguh saya tidak punya apapun kecuali pemberianMu.”

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya AKU ingat (pula) kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) Ku” (QS 2:152)

Bandung, 3 November 2012

Disebuah kerumunan aku memanggilnya dari jauh, dia menoleh. Akupun datang, kita berbincang tentang masadepan. Dan aku setuju apapun katanya, aku telah dia beli dengan cinta, jadi budakpun aku rela. Ku tanam harapan. Namun tiba-tiba angin rebut datang mengguncang

“Tanaman itu tak mungkin terus kau pelihara” katanya seketika

Kucabut dengan berlinang air mata. Perihnya lama, aku belajar memaafkan diriku karena salah mengira dia adalah kamu

Hari berganti minggu, berganti bulan, pun berganti tahun.

Hatiku menunjuk seseorang,

“itu mungkin dia” katanya ragu

“Kita tak melihatnya dengan nyata” fikirku

Aku memanggilnya berulang kali tapi menolehpun tidak

“mungkin ia tak mendengar” kata hatiku

Dan aku harus mengambil keputusan, agar dia tak lagi mengganggu hatiku

Kutanyakan dia pada temannya

“maaf mas, dia bukan yang kau cari itu” kata temanya yang juga temanku

Mengenalimu diantara milyaran manusia ini memang tidak mudah, berulangkali aku salah. Atau aku harus tidak percaya lagi pada hatiku.