Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari 10th, 2008

Bola

            Bola…bola…,(anda pasti bisa menuturkannya seperti si Ringgo “Agus” menuturkan kata (cinta…cinta…) dalam film jomblo, anda pasti pernah mendengarnya) banyak orang mengejar-ngejarmu, setelah ketemu kau di tendang, demikian juga aku memperlakukanmu, tapi memang begitulah bola ingin diperlakukan.

Jika aku besar nanti aku tidak akan jadi pengusaha,insinyur, artis, tapi aku ingin menjadi bintang sepakbola profesional, begitulah cita-cita anak kecil yang terobsesi dengan bola, mungkin itu jujur, atau mungkin juga hanya sekedar emosi sesaat namun manifesto tersebut telah menjadi prasasti dalam buku harianku 10 tahun yang lalu. bola telah menjadi bagian dalam hidupku, aku tumbuh dengan bola, ia selalu menjadi teman setia kapanpun dan  dimanapun aku berada, saat aku kecil dan lapangan dipakai orang-orang dewasa aku bersedia menjadi kiper karena jarang orang yang mau jadi kiper, semua ingin jadi striker, dan memang itulah kelebihan permainan sepakbola ketika dilapangan orang-orang oportunis akan kelihatan dengan jelas, sampai kakiku berdarah-darah, kemaluanku sakit berhari-hari, aku tak menyerah, rumahku adalah tempat latihanku, aku bermain dengan tiang, kursi, dan pintu adalah gawang dimana shooting-shotingku berkembang disana, dan tentu saja banyak sekali cerita-cerita seru  lain yang telah kulewatkan bersama bola. Kadang aku berangan-angan saat buang air besar (aku yakin anda juga sering melakukannya), mereka-reka skenario hidupku sampai kemudian takdir menemukanku seperti ia menemukan Ronaldinho, Zidane, Pele, atau bintang-bintang bola yang lain, angan-angan itu begitu indah sampai harus bersambung setelah keluar dari wc.

Dan siang ini aku coba ingin menulis keluh kesahku bersama bola, menulis adalah teman berbagi yang begitu pengertian, ia tidak seperti orang-orang yang bisanya Cuma bilang, “ah jangan berandai-andai”, atau “jangan cari alasan”, atau yang paling sadis “kalau kalah ya kalah, sok jago banget sih”, dan bahasa-bahasa jawaban lain yang membuat lidahku kelu, ya sudah kulum sajalah. Pagi tadi aku kalah untuk kesekian kalinya disemi final, tahun kemaren di final, tahun lusa disemi final, dan tahun sebelum lusa difinal, dan yang membuat kecewa bukanlah kalahnya, tapi ketidak profesionalannya, datang telat, tanpa persiapan, ga ada manajer, ga pernah latihan, pokanama main enjoy aja….. ah itulah kayaknya penyakit indonesia yang belum ditemukan obatnya. Coba kalau ada sarjana yang coba meneliti untuk pengobatannya, tentu saja yang simple dan membumi, seperti sebuah pil yang caspleng untuk segala kalangan.

           Nah kawan inilah inti dari curhatku, sampai detik ini aku terus mencoba untuk menemukan sebuah komunitas yang seperti agar-agar, ia yang menumbuhkan anggrek hingga suatu saat nanti bisa berbunga, atau seperti humus yang membuat hutan semakin rimbun hingga suatu saat nanti mampu menjaga kehidupan. Ah indah sekali kayaknya jika setiap orang tumbuh dengan kecerdasanya, mungkin si A jadi pemimpin yang pandai berorasi dan menginpirasi, si B jadi ilmuwan jenius karena ketekunannya, si C kaya raya dan bisnisnya menggila tapi tetap sederhana, dan aku menjadi apa ya? Pemain bola kali???,ga jelas banget sih ni hidup, na itulah kenapa aku mencari komunitas. Nb. Sampai detik ini aku tetap terobsesi untuk menjadi pemain bola profesional, adakah yang berminat bergabung bersamaku, kita bentuk team, dan ikut kompetisi oke bos!!!

Iklan

Read Full Post »

Jika Aku ke Puncak Gunung

Jika aku ke puncak gunung

Terjal dan mendaki

Berjalan dengan kakiku

Letih, pegel, ngilu

Cape deh

Jika aku ke puncak gunung

Terjal dan mendaki

Berjalan dengan telingaku

Maka kudengar syahdu

Musik dedaun dan nyanyian burung

Berayun-ayun dibawa angin

Aku ingin tidur mbok 

 

Jika aku ke puncak gunung

Terjal dan mendaki

Berjalan dengan mataku

Maka kusaksikan

Dunia menjadi kecil

Dan diriku menjadi kerdil

Alangkah pongahnya langkahku 

Jika aku ke puncak gunung

Terjal dan mendaki

Berjalan dengan hatiku

Maka aku tersesat dalam kerinduan

Kapan lagi bung? 

Jika aku ke puncak gunung

Terjal dan mendaki

Berjalan dengan fikiranku

Maka awan, matahari, hutan, sungai

Senja, dan pagi

Bercerita

Asyik mendengarnya 

This poem writed because read anonim poem, that’s content loo like, but different

Read Full Post »