Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April 19th, 2008

Catatan Singkat untuk Sahabat yang tak Kukenal

 

Kawan aku tak tau sekarang ini engkau dimana, maka bacalah catatan kecil yang sengaja kubuat untukmu, jika kau menemukannya.

Aku ingin bercerita kepadamu tentang sebuah kisah dirumah tua, rumah tua itu dihuni oleh beberapa manusia, boleh dibilang manusia-manusia ini adalah pemuda harapan bangsa,mereka ditempa disebuah universitas ternama pula, rektornya dengan semangat empat lima mengungkapkan manifestonya  ” Universitas kita akan menjadi universitas kelas dunia” . Mereka tidak hanya cerdas tapi juga populer dikampusnya, banyak cewek-cewek seksi yang mengejar-ngejarnya, tapi mereka tidak lari, anehkan. Selain itu mereka juga pengertian sama orang tua, mereka sengaja menempati si rumah tua, karena mereka tidak mau terlalu membebani mereka. Pokoknama Fahri kalahlah sama mereka.

Manusia-manusia tersebut adalah  petrus, julius, markus, venus dan ada beberapa nama lain lagi. Karakter mereka bermacam-macam, meskipun begitu mereka saling memahami antara satu dengan yang lain. Terkadang ada hal-hal indah yang mereka lakukan bersama-sama. Jika hari ahad sebulan sekali atau dua kali mereka lari pagi  menuju suatu tempat yang jika anda ke tempat itu membawa seorang gadis, kemudian anda membacakan puisi untuknya, maka ia akan tersenyum manis sekali kemudian akan menyandarkan kepalanya kedada anda, lalu dengan mesra ia akan bilang “ Sungguh beruntung aku memiliki suami seperti dirimu sayang”. Setelah nafas putus-putus, keringat mengucur dari ketiak lalu perlahan-lahan jatuh melalui ujung bulu-bulunya, dan tenggorokan kering kerontang ingin dibasahi, mereka berhenti. Kebetulan disitu ada sebuah warung disamping  mushola mungil dengan pagar bambu. Di warung itu mereka melepas haus dengan air teh pahit, kemudian mengunyah jajanan yang ada disana. Ada yang mengambil rambutan, roti, krupuk, dan gorengan tetap nomer satu, salah satu dari mereka berpetuah ” inilah bagian dari kenikmatan dunia”. Hal-hal indah lainnya akan aku ceritakan belakangan.

Meskipun mereka seperti fahri, tapi kehidupan sehari-hari mereka sangat menjengkelkan. Bayangin saja ini karakter mereka, mereka tidak pernah mau nyuci piring sendiri meskipun mereka juga yang membuat tulisan dan di pampang di tempat cucian piring : ATURAN TEGAS, setelah pake, cuci sendiri, jangan jadi beban orang lain, kemudian dibawahnya ada gambar monyet. Jika aku tidak salah menafsirkan mungkin yang ingin ia katakan seperti ini ”jangan jadi beban orang lain monyet!!!”. ada juga yang lebih menyebalkan dari mereka, dia suka banget buang bungkus susu bendera sachetan kedalam kaleng tempat menyimpan kunci jika si rumah tua ditinggalkan. Ada juga yang jika habis makan mi, bungkus bumbunya ditinggal saja seenaknya, ada juga jika habis makan nasi bungkus, bungkusnya ditinggal saja ditempat cucian, sampai setahunpun kalau tidak ada yang membuangnya ketempat sampah, tetap saja akan ada disitu, ada juga yang sebenarnya sudah tau diri dia mau membuang sampah ke plastik yang digantungkan di dekat pintu, tapi lemparannya meleset dan jatuhlah sampah ke depan pintu, ya sudah ditinggalkan saja sama dia, mungkin ia berkata dalam hati ”sudah takdir lemparanku meleset”. Akhirnya menumpuklah sampah di depan pintu, bukankah ini lebih menyebalkan. Kamar mandi juga tidak kalah ramenya, padahal disitu juga sudah dipasang tulisan tegas: jagalah kebersihan , jangan membuang apapun dikamar mandi (bungkus rinso, hp, duit, dompet) tapi tetap saja ada duit receh tercecer, bungkus-bungkus bekas, tisu, koran, dan kenapa pula itu lantainya kotor sekali. Tentu saja kawan tidak semua dari mereka begitu,  ada yang lebih parah.

Selain kehidupan sehari-hari mereka yang menjengkelkan, ada satu sifat lagi yang tidak patut ditiru yaitu kemaruk. Meskipun perusahaan listrik membebaskan mereka atas energi  yang telah mereka pakai, tapi seenaknya saja mempergunakan, contoh yang paling kecil adalah mereka tidak pernah mematikan lampu kamar mandi jika sudah ditinggal. Air juga begitu, di biarkan saja mengalir terus meski bak mandi sudah tumpah ruah meleber kemana-mana, untung saja  si rumah tua tidak terendam, apa mentang-mentang mereka di dekat gunung geulis.

Cerita indah berlanjut kawan                                                                                                      Jika tadi bicara tentang ahad pagi, maka sekarang sabtu pagi, hari itulah waktu melepas penat setelah seminggu berjuang untuk sabar mendengarkan dosen-dosen berkumis tebal yang berpetuah. Pagi-pagi benar mereka membawa bola voli butut yang akan kempes jika ditendang, anda jangan salah paham dulu karena mereka tidak akan bermain voli, mereka akan menantang tim-tim futsal profesional untuk berduel, yang sebenarnya mereka Cuma minjam bolanya doang karena untuk main futsal mereka tidak punya bola. Setelah stamina mereka melempem karena mengejar-ngejar bola, mereka menuju holstein alias tempat sapi diperah susunya. Mereka menikmati susu dingin dengan bermacam rasa, salah satu dari mereka kembali berpetuah ” inilah bagian dari kenikmatan dunia”

Kawan bersambung saja ya cerita ini, soalnya dah cape nih + laper karena mencium bau daging kambing direbus, bumbunya kayu manis, garam, bawang merah, putih, laja, ketumbar, muncang, dan kecapnya lupa dibeli + kertasnya habis, mau nambah kertas lagi lebar, dan anda tentu saja akan jenuhkan.  

 

 

Read Full Post »

Siang itu seorang pemuda belia baru saja turun dari sebuah kereta ekonomi jurusan Kediri-Bandung. Mukanya tampak lusuh, rambutnya acak-acakan, dan bajunya kucel. Ia baru saja menghirup udara Bandung. Sebulan setelah itu ia tidak melihat namanya tercantum dalam deretan nama-nama yang beruntung lolos seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB).

            Saat lulus SMA pemuda itu bersikeras ingin melanjutkan studinya keperguruan tinggi negeri, meskipun orang tuanya tidak setuju karena pertimbangan biaya. Orang tuanya bilang, meskipun semua sawah ladangnya akan habis dijual tetap tidak akan mencukupi biaya kuliah. Orang-orang disekitarnyapun bilang bahwa kuliah itu hanya untuk orang kaya atau seorang pintar yang beruntung, orang miskin seperti kita ini tak berhak. Mencium bau pelajarannyapun tidak boleh. Namun rupanya tidak goyah tekad pemuda itu, ia berdalih bahwa nanti pasti akan dapat beasiswa kalaupun tidak ia akan bekerja sampingan. Akhirnya bapaknya melepas dia dengan perasaan masghul, namun dalam hati kecilnya ia yakin bahwa anak terakhirnya itu akan mampu mengatasi kesulitan-kesulitan yang akan dialami. Ibunya melepasnya dengan deraian air mata, mulutnya komat-kamit melafalkan do’a, kemudian mencium dan memeluk erat pemuda tanggung itu.

            Setelah gagal SPMB, pemuda itu bekerja disebuah perusahaan pasta gigi. Ia menjadi office boy (OB). Karena etos kerjanya yang lumayan bagus, belum genap 4 bulan karirnya naik. Ia merangkap menjadi kepala gudang. Karakternya yang mau melakukan pekerjaan apapun tanpa mengeluh membuat ia di daulat menjadi pembantu umum yang serba bisa. Ia sering menggantikan tugas salesman, administrasi, bahkan tugas sang bos. 2 bulan kemudian ia dipromosikan menjadi administrasi yang baru menggantikan administrasi lama yang ingin menjadi ibu rumah tangga.

            Waktu yang pandai menyimpan rahasia takdir terus melaju memainkan perannya. Tak terasa SPMB akan tiba kembali. Ternyata pemuda itu masih menggenggam erat mimpinya. Ia memutuskan keluar dari pekerjaan karena harus menyelesaikan kursus bahasa inggris yang telah dijalaninya sambil bekerja. Ia juga harus mempersiapkan diri menghadapi SPMB yang sebentar lagi datang dengan masuk program intensif suatu lembaga bimbingan belajar di bandung. Keluarganya banyak yang tidak setuju, bapaknya mewanti-wantinya agar tidak melepas pekerjaan, kakak lelakinya memarahinya karena terlalu nekad dan tidak berfikir logis. Mereka beralasan kalaupun masih ingin kuliah tunggu sampai lebih sedikit mapan dan setelah itu ia bisa mengambil kelas karyawan. Tapi nampaknya tekad pemuda itu memang sudah bulat, sebulat bulan purnama di bulan Februari. Ia malah menjawab orang-orang yang tidak setuju dengan keputusannya bahwa setiap orang berhak memiliki mimpinya, dan Allah tak pernah diskriminasi memperlakukan hambaNya.

            Hari dimana ratusan ribu orang sibuk dengan pensil 2Bnya itupun tiba. Dan pemuda itu termasuk salah satu dari sekian ratus orang tersebut. Beberapa hari sebelum itu ia mesti berhutang kepada salah seorang temannya agar bisa membeli formulir SPMB. Tabunganya telah habis buat bimbel, kursus, dan makan sehari-hari. Ia juga harus merelakan perutnya hanya diisi biscuit sebagai menu sarapan dan makan siang.

            Sambil menunggu pengumuman hari-harinya ia lewati di kampung. Memupuk jagung, menjaga padi yang mulai menguning dari serangan burung, memijat ibu dan bapaknya yang tulang tuanya mulai terasa, dan sepak bola sambil bertelanjang kaki di lapangan tanah merah. Hingga saat itupun datang, sang waktu membawa kabar tentang takdir pemuda itu. Ia lolos SPMB dan diterima dipilihan pertama. Sujudlah ia, dalam do’a yang lirih ia berseru “ Aku telah membuktikan Ya Rabb, bahwa engkau memang maha adil, tak diskriminatif terhadap hambaMu, engkau memang maha pengasih, tak pilih kasih terhadap hambaMu, engkau memang maha penyayang, tak pandang sayang terhadap hambaMu, dan benarlah kataMu Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga (mendapatkan mimpimu/yang kau inginkan*), padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.(Qs: 2;214)

            Pemuda itupun kembali keBandung dengan membawa tekad baru, ia beazam, kelak akan kembali untuk meyakinkan orang-orang miskin, orang-orang yang dianggap bodoh dan terbelakang, orang-orang yang disiapkan menjadi buruh dan kuli, orang-orang yang disiapkan untuk ditindas dan dibohongi. Bahwa setiap orang punya hak yang sama di dunia ini. Yaitu menjadi manusia terbaik seperti yang telah dituliskan oleh sang penciptanya. “sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”(Qs:95;4).

            Saat ini, meski dengan tertatih-tatih ia akan menyelesaikan kuliahnya. Banyak mimpi-mimpi baru yang ingin ia capai lagi. Katanya ada satu orang yang sangat ia kagumi. Orang itu adalah temannya yang telah meminjami uang untuk membeli formulir SPMB. Hingga saat ini uang itu belum ia kembalikan karena orangnya entah kemana. Kabar terakhir yang saya terima pemuda itu ingin ke suatu tempat terpencil yang kondisinya berkebalikan dengan megahnya teknologi abad 21, tetapi masyarakat di sana tetap eksis dan sejahtera. Dengan penuh semangat ia menceritakan bahwa tempat itu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Indonesia yaitu kemandirian. Ia ingin belajar kearifan lokal di sana sekaligus menyelesaikan tugas akhir kuliahnya.

Cibiru, 6 April 2008

Read Full Post »

Oleh : Amir Ma’ruf*

Pilgub Jawa Barat yang baru saja berlangsung, menjadi sangat menarik untuk dikaji karena hampir semua hasil quick count kecuali quick count milik team Aman memenangkan Hade, padahal hari-hari sebelum kampanye dimulai, quick count- quick count yang ada selalu menempatkan Hade diurutan terakhir, dengan selisih angka persentase yang cukup signifikan. LSI misalnya sebelum pemilihan menempatkan Aman pada posisi teratas dengan 48,5% suara, sedangkan Hade diurutan terbawah dengan perolehan suara 16,5% (kompas).
dalam hal ini saya coba ingin membahasnya melalui aspek desain produk, mata kuliah yang saat ini baru saya ambil. Jika diibaratkan calon-calon gubernur yang kemaren bersaing memperebutkan posisi digedung sate itu adalah produk, maka produk yang paling unggullah yang kemudian bisa memenangkan persaingan pasar. Dan tentu saja sebuah produk tidak hanya dilihat dari isinya saja, tetapi juga bagaimana mengemasnya.
Analisis kenapa Hade menang
Differentiation
Theodore Levitt, salah seorang guru besar Harvard Business School pernah mengatakan bahwa apapun bisa bisa didifferensiasi, sedangkan differensiasi sendiri sangat mempengaruhi konsumen yang dalam hal ini adalah pemilih. Hermawan Kertajaya dalam marketing plusnya mengatakan bahwa konsumen akan tertarik pada suatu produk, kalau produk tersebut dipersepsi sebagai “berbeda”.(Marketing Plus 2000, hal;174). Dari aspek foto saja yang terpampang pada saat kampanye Hade sudah memiliki differensiasi. Da’i dan Aman memakai kopiah sedangkan Hade tidak memakai. Rupanya Hade lebih konsisten dengan brandnya yaitu sebagai pemuda pembaharu (Harapan Baru Jawa Barat). Jika Hade memakai kopiah maka tentu saja Hade akan tampak tua, dan cenderung akan sama dengan Da’i dan Aman. sedangkan Aman sendiri menerut saya sangat tidak konsisten. hal ini terlihat dari brand Aman yaitu berjuang untuk perubahan tapi malah melibatkan wakil gubernur terdahulu, ini tentu saja sangat bertolak belakang.
Segmentation
Dalam hal segmentasi pasar, pasangan Hade menurut saya perlu diacungi jempol. mereka tau persis bagaiamana menerapkan teori segmentasi yang digagas oleh Hermawan Kertajaya, yaitu Where ke Who, Who ke Why, Why ke How, dan How ke Which one. Segmentasi yang sangat kelihatan adalah target untuk kaum muda. Sebagai calon termuda Hade intens sekali dalam mendekati kaum muda, hal ini dapat terlihat dari kampanye-kampanye yang dilaksanakan, Hade pernah datang ke try out anak-anak SMA kalau tidak salah se Jawa Barat di Cirebon, bahkan Hade berkesempatan menyerahkan trofi (pikiran rakyat). Hade beberapa kali datang ke Jatos (Jatinangor Town Square) yang tentu saja di situ banyak massa mahasiswa. Hade pernah menandatangani kontrak politik yang disodorkan oleh BEM se Bandung Raya(pikiran rakyat). Da’i dan Aman sendiri segmentasi masih belum jelas. Dalam memasarkan produknya mereka kebanyakan masih menggunakan cara klasik yang tentu saja sudah usang di zaman yang semakin dinamis ini.
Desain-desain atribut kampanye
Menurut saya desain-desain pada atribut-atribut kampanye Da’i masih sangat monoton, kebanyakan dengan frame berbentuk hati sebagai background foto, dari segi maksud yang ingin disampaikan yaitu memimpin dengan hati menurut saya sudah tersampaikan, tetapi kurang kreatif, yang saya tahu tidak ada desain-desain lain yang lebih unik dan menarik. Sedangkan pada Aman menurut hemat saya ada beberapa desain yang norak. misalnya background foto merah dan hijau yang di gabungkan, warna merah dan hijau kelihatan sekali noraknya, meskipun saya tahu maksudnya yaitu PDIP dan PPP. Hade sendiri menurut saya lebih berani, ketika yang lain ingin sekali mencitrakan warna dengan partai pengusungnya, Hade memilih tidak terpasung pada warna pencitraan. Yang lebih menarik Hade lebih menonjolkan warna-warna yang sangat mencolok, merah, hijau dan warna-warna lain yang tidak ada sama sekali kaitannya dengan partai-partai pengusungnya.
Jatinangor, 17 April 2008
*Penulis sendiri tidak memilih pada pilgub Jawa Barat yang berlangsung 13 April 2008 kemaren, bukan karena termasuk golongan putih, tetapi karena tidak punya kewargadaerahan Jawa Barat.

Read Full Post »