Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Desember, 2011

Suatu sore aku menemukan seseorang tua, terseok seok mendorong gerobak baksonya. Dia tampak kesulitan mengendalikan gerobaknya saat melewati lubang-lubang jalan. Roda gerobaknya tampak bengkok sebelah sehingga jalannya tidak sempurna. Setelah gerobak itu dekat, memang benar, roda sebelah kiri bengkok. Ada balutan kain di bannya yang tampak sudah halus tergerus jalan. Pikiranku langsung melayang kemana-mana. Menayangkan bayangan-bayangan memilukan. Ia mungkin tak sanggup mengganti ban gerobaknya karena harus membiayai anaknya sekolah. Atau anaknya banyak, dan bahkan untuk mengganti ban, untuk makan saja bisa jadi kekurangan.

Di lain waktu, selepas sholat maghrib di masjid. Aku lihat seseorang setengah baya menghampiri sepedanya yang bermuatan sate-sate untuk dijual. Malam itu gerimis dan baru saja hujan lebat. Rasa-rasanya setiap ayah akan memilih segera pulang berkumpul dengan keluarga, menikmati secangkir kopi panas dan sepiring mendoan hangat, sambil menonton acara kesukaan. Menyaksikan orang itu menggayuh sepedanya patah-patah menjauh membuat hatiku miris. Ingin rasanya tadi menyapanya, sekedar memperkenalkan nama dan tersenyum.

Aku juga punya seorang kakak yang mungkin dalam pandangan banyak orang kehidupannya tampak memilukan. Ia berjualan ayam dari pasar ke pasar. Bangun pagi-pagi buta sebelum udara mengembun, saat ayam-ayampun masih tertidur pulas. Harus menyembelih ayam dan membersihkannya kemudian berdandan ala kadarnya dan pergi dengan motornya menyusuri jalan roler coaster desaku. Ketika kembali  lagi kerumah kadang ia juga membawa kembali ayamnya yang masih utuh. Ayamnya tak laku di pasar. Sedih sekali rasanya membayangkan kakakku merasakan lelah raga dan lelah jiwanya. Ingin sekali membantu mengambil beberapa bebannya. Namun seiring waktu, ketika melihat kaki-kakinya yang semakin kuat, jiwanya yg berubah menjadi lebih kokoh, dan pikiranya yg semakin dewasa. Membuat sudut pandangku berubah. Aku fikir begitulah cara Allah mengabulkan do’a-do’anya tentang kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan bahagia sekali rasanya melihatnya mampu tetap tegar dan bisa mengatasi kesulitan-kesulitannya setiap hari.

Bahkan sekarang aku berani menyalahkan padangan orang lain yg menyatakan kehidupannya penuh dengan kenelangsaan. Aku menemukan bahwa kehidupannya adalah cerita-cerita heroik seorang anak yang ingin berbakti kepada orang tuanya, pahatan kehormatan seorang ibu, dan lakon kehidupan yang dia jalani dengan tegar, ceria, dan penuh semangat. Ia adalah petarung kehidupan

Namun ia tetaplah manusia biasa yang kadang letih menjalani kesehariaanya. Ia ingin berhenti sejenak, ingin mengeluh. Suatu waktu saat kutelepon, ia terdengar galau dan tak berminat untuk bicara. Aku tanyakan kabar usaha kecilnya. “ah..seperti biasa” katanya tak bersemangat. Dan kemudian aku tahu dari ibuku bahwa ia terlalu lelah dengan semua itu, ia ingin berhenti.

Beberapa hari kemudian aku membaca sebuah artikel menarik tentang rizki. Yang intinya bahwa rizki itu dibagi tiga : 1. Yang kita makan hingga kenyang, 2. Yang kita pakai hingga usang, 3. Yang kita sedekahkan. Selain itu bukanlah rizki kita. Maka bertumpuknya harta belum tentu adalah rizki kita, jika kita tak mampu mendistribusikannya dengan benar. Kemudian aku terburu-buru meneleponya, pelan-pelan bercerita tentang artikel yang baru kubaca. Aku curhat tentang kehidupan-kehidupan memilukan yang sering kulihat. Bercerita tentang murid-muridku yang sering mengeluh malas lagi belajar karena nilai-nilainya tak kunjung membaik, tentang rasa lelah yang sebenarnya adalah akumulasi dari kekecewaan bahwa apa yang kita cari tidak kita dapatkan.

“Ah…mbak” kataku pelan

“Saya fikir, sebenarnya yang kita cari bukanlah harta. Tapi rizki”

“Rizki yang berkah, yang kata orang-orang bijak adalah rahmat terindah yang mengantarkan kebahagiaan kedalam hati kita, yang mengilhamkan rasa syukur saat kelapangan dan kelimpahan, yang meniupkan rasa sabar saat kesempitan”

“Dan kita selalu mendapatkannya setiap hari mbak….”

Read Full Post »