Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Cerita Cinta’ Category

Pagi tadi aku membaca matsnawinya Rumi, membuka halamannya dan menemukan kisah tentang “Nyanyian alang-alang” dilembar pertamanya. Sebuah seruling, yang terpisah dari kebun alang-alang, tersedu sedan karena merindukan rumahnya itu, dan dengan begitu seruling tersebut mengungkapkan rahasia cinta abadi.

Apa yang terungkap?, aku berhenti, merenungkan nyanyian alang-alang. Tapi malah teringat tentang kisah seorang muda yang meyakini bahwa setiap kehidupan ditakdirkan memiliki satu cinta sejati. Suatu ketika ia bermimpi, mimpi itu terulang lagi pada hari berikutnya. Lalu ia memutuskan untuk mengikuti impiannya itu. Mimpi itu berkisah tentang menemukan cintanya yang berada di kairo, ada cinta yang telah menantinya di sana.

Pemuda tersebut menjual semua harta yang dimilikinya untuk bekal ke kairo, namun malang tak bisa ditolak, baru memulai perjalanan melewati satu kota, uangnya sudah dicuri orang. Kini ia tak memiliki apapun, ia memutuskan bekerja pada penjual Kristal untuk mengumpulkan kembali bekal menemukan cinta impiannya.

Peruntungan pemuda itu baik dalam bisnis, ia mengenali pertanda. Bahasa tanpa kata-kata. Suatu sore dia melihat seorang pria di atas bukit, yang mengeluh bahwa susah sekali menemukan tempat yang  layak untuk mendapatkan minuman setelah letih mendaki.

“Mari kita jual teh untuk orang yang mendaki bukit” kata pemuda kepada penjual Kristal

“Sudah banyak penjual teh di sini” jawab penjual Kristal datar

“Tapi kita bisa menjual teh dalam gelas Kristal, orang akan menikmati tehnya dan membeli gelas kristalnya. Aku pernah diberitahu bahwa kecantikan adalah penggoda terbesar bagi lelaki” sambung pemuda

Berbulan-bulan kemudian kedai teh itu menjelma menjadi super besar yang mempekerjakan banyak orang. Sang pemuda juga telah memiliki cukup bekal untuk melanjutkan perjalanan menemukan cinta sejatinya di kairo. Dia memutuskan pergi meski penjual Kristal ingin menahannya dengan gaji  besar. Ia ikut bersama rombongan kafilah dagang menuju Kairo.

Ditengah perjalanan rombongan berhenti disebuah oasis. Gurun tidak mudah ditaklukan, semua orang perlu beristirahat memulihkan tenaga, sekaligus memperbaharui bekalnya. Pada waktu itu senja tiba, kata orang-orang tak ada yang lebih indah selain melihat matahari pulang melewati gurun. Tapi sang pemuda tak percaya lagi dengan kata orang-orang setelah bersitatap dengan sepasang mata. Seorang gadis gurun melewatinya.
“Ini lebih indah” kata pemuda dalam hati.  Waktu seakan berhenti saat gadis itu tersenyum kepadanya, hatinya seperti bercakap langsung dengan hati sang gadis  dalam bahasa yang tak dimengertinya. Bahasa yang mungkin lebih tua dari gurun itu.

“Apakah ini kairo” sang pemuda berucap menyapa gadis gurun

“Bukan, Kairo masih setengah bulan perjalanan dari sini” Jawab gadis gurun sambil tersenyum meninggalkannya.

Semalaman sang pemuda tak bisa tidur, ia tak habis pikir, kenapa telah menemukan cintanya sebelum Kairo. Mana yang salah, apakah mimpinya atau hatinya.  Hari berikutnya ia menunggu gadis gurun ditempat kemaren ia bertemu, namun gadis gurun tak datang. Ia mencoba lagi esok berikutnya, dan gadis gurun tak datang juga. Ia mulai menyadari bahwa hatinya yang telah salah mengenali cinta, namun tiba-tiba ada sepucuk surat untuknya yang dibawa penunggang kuda.

“Apakah kau menungguku?, ketahuilah bahwa lelaki tidak menunggu, lelaki harus datang” bunyi surat itu “datanglah dan mintalah ke ayahku” disambung  alamat pengirimnya.

Sang pemuda datang dan menceritakan semuanya, tentang mimpi dan perjalanannya.

“Bila aku sungguh-sungguh cinta sejatimu, kamu akan menemukanku di Kairo, atau kau akan kembali suatu hari” Jawab gadis gurun

Pemuda melanjutkan perjalanannya menuju Kairo. Sesampai di sana, ternyata sedang dalam kondisi perang. Pemuda itu di pukuli oleh para prajurit yang sedang berpatroli, ia disangka sebagai mata-mata musuh. Kemudian ia dibawa menghadap pemimpin mereka. Pemuda itupun menceritakan mimpinya pada sang komandan yang mendengarkannya dengan antusias.

“Aku percaya padamu” kata komandan “ namun sebagai lelaki kamu harus belajar untuk tidak bodoh, dua tahun yang lalu aku juga mendapatkan mimpi yang berulang. Aku bermimpi, bahwa aku harus berkelana melintasi gurun. Dalam mimpiku ada cinta sejati yang membuatku bahagia, sedang menungguku di sebuah rumah di bagdad sana. Tapi aku tidak begitu bodoh menyebrangi gurun hanya karena mimpi”

Pemuda itu terperanjat karena komandan menyebutkan alamat rumah tempat ia tinggal di bagdad. Kini sang pemuda mengerti di mana cintanya berada.

Kisah diatas saya adaptasikan dari novel bestseller internasional yaitu sang alkemis. Maknanya dalam, simpulannya jelas bahwa cinta yang selama ini kita cari berada dalam diri kita sendiri. Kita memiliki kemampuan mencintai apapun kapan saja kita mau, tapi dalam fikiran kita ada aturan mental yang harus terpenuhi sebelum kita mengijinkan cinta itu keluar. Seperti air mata yang keluar ketika sedih.

Namun yang paling ditekankan dalam kisah diatas adalah bahwa sebelum cinta ditemukan perjalanan haruslah ditempuh. Seorang murid bertanya kepada gurunya, “Kenapa perjalanan harus ditempuh?”

“Karena dengan begitu ia akan faham cinta yang sejati. Seperti berlian, siapapun takan pernah tahu bahwa itu adalah berlian sebelum ia mengalami tekanan yang begitu besar dalam waktu lama”

Berlian menempuh perjalanan spiritual memurnikan dirinya sebelum ia diakui sebagai berlian yang sesungguhnya.

Lalu bagaimana dengan nyanyian alang-alang?. Di cinta sesungguhnya #3 kita akan menyelami pemahaman tentang cinta menurut Rumi. Wallahu’alam

Bandung, 2 Desember 2012

Iklan

Read Full Post »

Dahulu kala, sebelum manusia diciptakan, sifat-sifat mereka sudah diciptakan terlebih dahulu. Mereka ditempatkan di sebuah pulau. Sifat-sifat ini berdiri sendiri dengan ciri khasnya masing-masing. Optimisme, Pesimisme, Pengetahuan, Kemakmuran, Kesombongan, Cinta, dan sifat-sifat yang lainnya.

Namun suatu ketika ada pemberitahuan bahwa pulau itu akan tenggelam pelan-pelan. Sifat-sifat ini dilanda kepanikan. Mereka segera menyiapkan perbekalan dan bersiap-siap meninggalkan pulau dengan perahu yang mereka miliki.
Cinta belum siap. Dia tidak memiliki perahu sendiri. Mungkin dia telah meminjamkannya pada yang lain dan lupa meminta lagi. Akhirnya cinta menunda keberangkatan pada saat-saat terakhir.  Dia menyibukan diri dengan membantu sifat-sifat yang lain bersiap-siap.

Setelah sebagian besar sifat meninggalkan pulau, akhirnya cinta memutuskan untuk meminta bantuan. Kemakmuran baru saja akan berangkat dengan perahu yang besar lengkap dengan teknologi mutakhir.
“Kemakmuran, bolehkah aku ikut denganmu?” tanya Cinta.
“Tidak bisa,” jawab Kemakmuran. “Perahuku sudah penuh dengan seluruh emas, perak, perabotan antik, dan koleksi seni. Tak ada ruang untukmu di sini.”
Lalu Cinta minta tolong pada Kesombongan yang lewat dengan perahu yang indah, bertabur emas berlian.

“Kesombongan, sudikah engkau menolongku?”
“Maaf,” jawab Kesombongan, “Aku tak bisa menolongmu. Lihatlah dirimu, basah kuyup dan kotor. Bagaimana nanti dengan perahuku yang mengkilat ini. Sungguh tak cocok jika kau ada disini.”
Cinta melihat Pesimisme yang sedang bersusah payah mendorong perahunya ke air. Pesimisme terus-menerus mengeluh soal perahu yang terlalu berat, pasir terlalu lembut, air terlalu dingin. Dan kenapa pulau ini mesti tenggelam? Kenapa semua kesialan ini harus menimpanya? Meski Pesimisme mungkin bukanlah teman perjalanan menyenangkan, Cinta sudah sangat terdesak. Ia akan ikut tenggelam jika tak segera mencari tumpangan. Dan bagaimana nasib manusia nanti tanpa cinta.
“Wahai Pesimisme, bolehkah aku menumpang perahumu?”
“Oh, Cinta, kau terlalu baik untuk berlayar denganku. Perhatianmu membuatku merasa lebih bersalah lagi. Bagaimana nanti kalau ada ombak besar yang menghantam perahuku dan kau tenggelam? Oh tidak cinta, aku tidak tega mengajakmu. Maafkan aku”

Pesimisme pergi dengan segala keluh kesahnya yang membuat suasana semakin muram. Tapi Cinta tak mau berputus asa.
Ia melihat perahu optimisme. Itu mungkin karena Optimisme tak terlalu percaya tentang bencana dan hal-hal buruk, termasuk bahwa pulau ini akan segera tenggelam makanya ia  termasuk yang paling akhir meninggalkan pulau.  Cinta berteriak memanggilnya, tetapi Optimisme tak mendengar. Ia terlalu sibuk menatap  ke depan dan memikirkan tujuan berikutnya. Cinta memanggilnya lagi, tetapi bagi Optimisme tak ada istilah menoleh ke belakang. Ia terus berlayar ke depan.

Cinta mulai pasrah, namun Pada saat itu, dia mendengar sebuah suara memanggilnya. “Wahai cinta, Ayo naiklah ke perahuku!”

Akhirnya ada juga yang mengajaknya, Cinta bersyukur. Ia merasa lelah sekali sehingga langsung tertidur. Ia tertidur sepanjang jalan sampai nakhoda kapal mengatakan mereka sudah sampai di daratan kering. Ia begitu berterimakasih, meloncat turun, dan melambaikan tangan kepada nakhoda baik hati itu. Tapi ia lupa menanyakan namanya…ah….Cinta begitu menyesal sekali. Namun dia ingat, bahwa ditempat barunya ada yang serba tahu segala urusan.

“Pengetahuan pasti tahu nama pemilik perahu yang begitu baik hati tadi” bisiknya dalam hati

Segera saja ia pergi mencari Pengetahuan dan bertanya, “Wahai Pengetahuan, siapakah gerangan tadi yang menolongku sampai disini?”
“Itu tadi Waktu, Cinta” jawab Pengetahuan dengan ramah.
“Waktu?” tanya Cinta. “Kenapa Waktu begitu berbaik hati, ketika yang lain meninggalkanku?”
Pengetahuan tersenyum dan menjawab, “Sebab hanya Waktu yang mampu mengerti betapa hebatnya Cinta.”

27, November 2012, Diceritakan kembali dari dongeng-dongeng metafora masa dahulu.

Read Full Post »

Disebuah kerumunan aku memanggilnya dari jauh, dia menoleh. Akupun datang, kita berbincang tentang masadepan. Dan aku setuju apapun katanya, aku telah dia beli dengan cinta, jadi budakpun aku rela. Ku tanam harapan. Namun tiba-tiba angin rebut datang mengguncang

“Tanaman itu tak mungkin terus kau pelihara” katanya seketika

Kucabut dengan berlinang air mata. Perihnya lama, aku belajar memaafkan diriku karena salah mengira dia adalah kamu

Hari berganti minggu, berganti bulan, pun berganti tahun.

Hatiku menunjuk seseorang,

“itu mungkin dia” katanya ragu

“Kita tak melihatnya dengan nyata” fikirku

Aku memanggilnya berulang kali tapi menolehpun tidak

“mungkin ia tak mendengar” kata hatiku

Dan aku harus mengambil keputusan, agar dia tak lagi mengganggu hatiku

Kutanyakan dia pada temannya

“maaf mas, dia bukan yang kau cari itu” kata temanya yang juga temanku

Mengenalimu diantara milyaran manusia ini memang tidak mudah, berulangkali aku salah. Atau aku harus tidak percaya lagi pada hatiku.

Read Full Post »

Baiklah, kuposting ini diwaktu yang paling sunyi, kutulis pada senja yang redup. Aku berharap tiada siapapun yang suka membacanya kecuali engkau.

Biarlah aku tak tahu namamu, tapi aku suka embun, jadi bolehkah kusebut kau embun?.

Aku tak yakin kapan kau masuk ke hatiku, kemudian menuliskan potongan kisah yang tak utuh. Aku menyimpannya baik-baik dan berharap takdir melanjutkannya. Apakah salah?!

Kalau kau tahu bahwa aku selalu bermimpi menjadi kesatria yang mempesonakanmu bukan dengan hartanya yang melimpah ruah, bukan pula dengan kekuasaan dan kepintarannya. Tapi keberaniannya, kejujurannya, dan kesetiaannya pada kebaikan. Lalu kita bertemu pada suatu perjumpaan yang tak biasa. Seperti saat kau menyebrangkan seorang renta sambil menggendong bawaannya. Atau pada saat kau susah payah membawa buku-buku untuk yatim piatu. Bukankah dunia ini terlalu sempit untuk selamanya memisahkan kita?

Tapi apakah apakah do’a saja mampu membuat Tangan Tuhan menuliskan cerita yang kuimpikan? Dan mungkin juga kau impikan. Apakah tidak seharusnya kita membuat jembatan kemungkinan itu?. Lalu seperti apakah jembatan itu?. Apakah dengan mematut-matut diri di halaman facebook?, menulis status galau agar menarik perhatian ?. Bukankah rendah sekali selera para yang akan mendekat itu?. Trus bagaimana? Apakah gue harus koprol dan bilang wow gitu?

Tentu saja kita sudah sama-sama tahu tentang apa yang harus kita perbuat. Tak perlu kau bilang tentang kodrat wanita yang begitu ketat itu, tentang penantian panjang yang melelahkan. Aku sudah tahu. Dan aku akan datang pada perjumpaan yang tak biasa itu, percayalah.

Maka hari ini bolehlah aku ambil selembar kertas, kutulis sebuah romansa; bahwa suatu nanti betapa bahagianya aku bercerita pada anak cucu. Tentang menghabiskan sisa umurku denganmu, tentang mimpi di ujung-ujung usia, aku tertidur pulas di pangkuanmu dengan sesungging senyum seputih melati.

Bandung ’12

Read Full Post »

Judul yg membuatku tertarik menyusun kembali, kertas yang remuk berepih-repih. Kutemukan di bawah pohon kamboja senja tadi

*****

Dinda maafkan…cinta

Senin, kutemukan kekaguman pada lentik bulu mata itu,bangir indah hidung itu,bening langsat kulit itu, rekah merah alami bibir itu

lalu kucuri-curi anugerah rupawannya dengan mataku

hingga suatu ketika saat pagi yang dingin kutemukan dia duduk sendiri di bawah pohon kamboja

waktu itu semua hening kecuali hatiku

tanyanya datang menyergap seperti segerombolan penyamun

“Cintakah…?”

kujawab gegabah dengan wajah yang merah kaku

“Ya”

lalu aku pulang dengan segera, membawa rindu yang menyiksa

*****

selasa, kubawa kuncup anggrek dengan ikatan pita jingga ditangkainya. kutitip pada adek kecil penjual keripik apel

“Mbak!, kalau mbak beli keripiku, mbak akan dapat hadiah”

matanya berbinar penasaran, senyumnya merekah dan pagi kurasakan semakin cerah

“Emang apa hadiahnya?”

“Rahasia” jawab adek penjual keripik singkat dan padat. membuatnya semakin penasaran

“Berapa harganya?”

Adek penjual keripik gesit menjawab, persis seperti yang telah aku ajarkan

“Harganya adalah senyummu mbak, tersenyumlah dan akan segera kukasih keripik juga hadiahnya”

maka serta merta dia tersenyum, bukan mau membayar, tapi karena lelucon adek penjual keripik itu

segera saja dia menerima sebungkus keripik juga bunganya

mukanya bersemu, jiwa wanitanya pecah. segera ia bertanya. gerangan siapa, dan apa makna bunga anggrek itu. Adek penjual keripik menunjukku yang sedang berdiri diseberang jalan. memakai celana jean hitam dan kaos putih, bergambar senyuman di bagian depannya

tanyanya datang menyergap seperti segerombolan penyamun

“Cintakah…?”

Segera ku masuk angkot tanpa menjawabnya, sebentar kemudian ketemukan senyumnya tertinggal dan aku berlari

*****

Rabu,dia duduk berdua dengan ayahnya diteras. entah apa yang mereka obrolkan, aku tidak tahu. seorang pengamen datang tiba-tiba

bercelana jean hitam dengan kaos bergambar senyum.

“permisi..” sapa pengamen itu sopan. dia ingat baju yang dipakai pengamen itu

Kemana langkah ku pergi selalu ada bayangmu” bait pertama mengalun dengan denting petikan gitar yang menyusup kerelung-relung. Bukan main, nada benar-benar sempurna menaklukan logikanya. Ia dengan ayahnya tampak terpaku syahdu

Kuyakin makna nurani, kau takan pernah terganti” bait kedua membuat kerut mukanya seperti ikut bermelodi

pandanglah bintang berpijar, kau takan pernah tersembunyi” bait ketiga ia semakin menikmati, imajinasinya melayang-layang membuat cerita indah cinta

Dimanakah engkau berada, disana cintaku…” bait keempat sempurna membuatnya tak tahan , ia berdiri berjalan ke ujung halaman depan dan melihat kekanan kiri

aku melintas dijalan depan rumahnya, dengan sepeda gunung mengangguk ke ayahnya.

ia tak lagi bertanya cintakah. tapi hanya senyum yang terus bersambung di bibirnya

*****

kamis,pagi sekali, sebelum matahari datang membawa cinta, menyulam kehidupan dari lelapnya. barangkali datang bersama embun yang bergulir ke pucuk-pucuk daun.

“Ya”

kupandangi berjam-jam sms itu,cuma dua huruf itu saja

*****

Jum’at, Pagi datang,lalu ku kirim email yang biasa saja segera

apakah masih ya?, jika aku hanya datang membawa cinta saja

lalu ayahmu memalingiku, dan ibumu berkelit dari rayuanku. Tentu aku paham jika kau berfikir lebih dahulu, lalu kau akan bertanya; apa yang akan kau janjikan dalam berkeluarga?

dan cuma ku jawab cinta, apakah masih ya?

sebelum dhuha dia kirim sms kedua; menurutmu apa cinta itu?

ku balas cepat; dibawah pohon kamboja, taman komplek perumahan orangtuamu. Kutunggu jam 3

Dia datang jam 3 kurang 5. tapi hatinya telah disitu seharian lamanya

ia menemukan seorang lelaki memakai jean hitam dan kaos bergambar senyum di depannya

“Assalau’alikum” sungguh salam yang tak biasa

“Wa’alaikum salam, silahkan duduk jika tak keberatan” jawab lelaki itu kalem

dia memilih duduk di ujung bangku. tanpa disadarinya aku duduk membelakinginya. kami bertiga

“Cinta adalah ketika seseorang datang kesini, mencari-cari alasan untuk tak ikut berlibur keluar kota. meskipun bersama keluarga tercinta” suaraku mengagetkannya

“lalu?”

lalu kubacakan syair Rumi kepadanya

Berpisah dari Layla, Majnun jatuh sakit. Badan semakin lemah, sementara suhu badan semakin tinggi.

Para tabib menyarankan bedah, “Sebagian darah dia harus dikeluarkan, sehinggu suhu badan menurun.”

Majnun menolak, “Jangan, jangan melakukan bedah terhadap saya.”

Para tabib pun bingung, “Kamu takut? padahal selama ini kamu masuk-keluar hutan seorang diri.

Tidak takut menjadi mangsa macan, tuyul atau binatang buas lainnya. Lalu kenapa takut sama pisau bedah?”

“Tidak, bukan pisau bedah itu yang kutakuti,” jawab Majnun.

“Lalu, apa yang kau takuti?”

“Jangan-jangan pisau bedah itu menyakiti Layla.”

“Menyakiti Layla? Mana bisa? Yang dibedah badanmu.”

“Justru itu. Layla berada di dalam setiap bagian tubuhku.

Mereka yang berjiwa cerah tak akan melihat perbedaan antara aku dan Layla.”

“Lalu?”

“Lalu segeralah pulang, keluargamu akan berangkat segera” aku dan lelaki yang memaki jean hitam dan kaos bergambar senyum pergi meninggalkannya. tampak senyum yang terus bersambung di bibirnya

Bersambung….

Read Full Post »

Beberapa waktu yang lalu di sebuah acara pernikahan seorang teman. Tiba-tiba seorang anak berusia sekitar 3 tahun memintaku mengambilkan es krim. Singkat cerita setelah aku ambilkan, aku menjadi akrab dengan orang tuanya. Di tengah obrolan kami yang hangat tiba-tiba ibu anak tersebut bertanya kepadaku, “kenapa masih membujang mas?, apakah belum menemukan wanita yang cocok?”

“Nggak kok” kataku. “aku sudah menemukan wanita idamanku”

“Trus kenapa mas tidak menikah dengannya?” kejarnya

“Ceritanya begini, aku tahu betul wanita yang akan mendampingiku nanti. Dia tentu saja harus enak dipandang, berasal dari keluarga baik-baik, dan agamanya bagus. Aku benar-benar menemukannya setelah pencarianku yang panjang”. Kataku

Dia mendengarkanku dengan seksama, dan aku mulai bercerita dengan panjang lebar

“Aku mulai pencarianku di daerah asalku, ketemulah dengan seorang gadis yang cantik, berasal dari keluarga baik-baik. Tapi sayang agamanya kurang bagus. Aku coret dari daftarku”

“lalu aku pergi ke Surabaya. Aku bertemu dengan seorang gadis dari keluarga kaya, agamanya lebih bagus dari yang pertama. Tapi sayang parasnya tidak begitu cantik. Aku terus membayangkan, seandainya aku menikah dengannya, maaf, aku harus terbangun disamping wajahnya yang tidak begitu menyejukan pandangan itu. Maka saya pikir, dia tidak cocok denganku.”

“Selanjutanya aku berkelana ke Bandung, aku nyaris menemukan apa yang kucari. Di sana aku bertemu dengan seorang gadis cantik, berasal dari keluarga baik-baik, dan agamanya lebih bagus dari sebelum-sebelumnya. Namun dari semua wanita yang pernah kutemui, nampaknya selalu ada yang kurang. Masalahnya gadis Bandung ini sangat pemalas.”

“Akhirnya, sampailah aku di Jakarta. Kali ini aku benar-benar menemukan gadis yang tepat. Dia cantik, agamanya bagus, punya kepribadian, dan pandai memasak. Pokoknya sempurna, semua kriteriaku ada padanya. Tak ada keraguan lagi, dialah wanita idamanku”

“ Lalu,” seru ibu sang anak yang semakin penasaran dengan ceritaku , “mengapa kamu tidak menikah dengannya?”

“Oh….” Jawabku pelan “Alasannya sederhana saja, rupanya dia mencari pria yang sempurna”

Peace ah, ini auto kritik. Cerita ini hanya fiktif belaka, semua rekayasa. Tidak ada manusia yang sempurna, tetapi kita bisa memberikan cinta yang sempurna. Selamat melajukan perahu kertas kawan, smoga surat cinta yang ada di dalamnya sampai dilabuhan yang tepat. Menambatkan hatimu di sana selamanya……

Bandung, 25 Oktober 2012

Read Full Post »