Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Puisi’

Ibu, cukupkah waktu

Ibu, cukupkah waktu
Jika besok aku ingin mencium bau cinta itu di tanganmu
Meraba letihnya perjalanan di kasar telapak kakimu
Karena hati ini terlalu lemas untuk tegas
Untuk tau yang sebenarnya
Bahwa aku adalah alasan itu
Alasan sabar, telah menangguhkan tiap-tiap yang paling kau inginkan
Alasan tegar untuk tetap bertahan dalam setiap himpitan kesempitan
Alasan berani menggadaikan rasa malu demi hari-harimu yang terpoles senyumku
Kemudian…
Biarkan aku malu
Karena cintaku adalah debu di angkasa hatimu
Karena alasan untuk banyak langkahku yang bukan karena cintamu
Karena aku selalu lupa tulusmu dan kau selalu ingat bahagiaku

 

Ibu, cukupkah waktu
Jika aku ingin membalas dongeng-dongeng yang selalu mengantar lelapku waktu itu
Tembang-tembang yang setia meredakan gelisah tangisku kala itu
Dengan menemani tanganmu melempar, seperti tangan Siti Hajar melempar setan
Dengan menggendongmu menundukkan jabal rahmah
Dengan memijit kakimu di putihnya pasir senggigi
Dengan mengintip senja eiffel yang terkenal itu
Ah…ibu
Meski apapun itu tak cukup puas hatimu
Kecuali kupenuhi lirih katamu di setiap gulita itu
“jadikan dia anak soleh”

 

Maafkan ibu, untuk bakti yang tak sempurna
untuk tiap-tiap lupa atas langkah yg selalu kau jaga dengan do’a
Untuk jingga senja yang hilang namamu dalam pinta
untuk waktu yang sia-sia

Bandung, 26 Juni 2011
Upupaepops yang merindu

 

“Suatu ketika ada salah seorang sahabat yang ingin membalas kebaikan ibundanya. Kemudian dia menggendong ibunya pergi jauh, jaraknya sampai 9,6 km. Ketika ibundanya bergerak sedikit saja, lukalah kulitnya. Tapi dia katakan, “Aku Ikhlas untuk ibundaku”. Dia berjalan di bawah terik sinar mentari padang pasir hingga tiba di Ka’bah. Bahkan ketika thawaf pun, terus digendongnya ibunya penuh dengan kasih sayang. Meskipun luka, dia ikhlas karena inilah yang bisa dilakukan untuk ibundanya.
Kemudian dia bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, aku telah menggendong ibuku dari rumah sejauh 9,6 km dan aku ajak berthawaf dan berhaji. Apakah aku sudah bisa membalas jasa ibundaku? Rasulullah menjawab, “belum cukup”.

Read Full Post »

KADO

Yang fana adalah waktu. Kita abadi:

memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga

sampai pada suatu hari

kita lupa untuk apa.

– Sapardi Djoko Damono, 1978

Kupikir ini terlambat, tapi terlambat karena apa, bukankah waktu selalu berulang, hari ini, kemaren, besok, toh kita juga menatap matahari yang sama, matahari yang ingin kau lipat itu, matahari di tahun barumu.

Bro, entah apakah penting untuk memulai tahun baru, tapi kurasa aku setuju seperti kebanyakan orang yang memperingatinya, karena kita abadi, dan waktulah yang fana. Pun ku kira kau juga menganggapnya begitu, aku menerkanya saat kau berusaha merasakan detik pertamanya, bersama sunyi, bersama jari yang mewakili mulut berbicara, bersama kenangan yang telah berdiri pada tempat keabadiannya. Maka aku terkesiap, terharu. Lalu apa yang bisa kuhadiahkan untukmu, atau ini sajalah dulu, terimalah apa ala kadarnya, kuharap kau suka, mungkin kau sudah membacanya atau menulisnya, tidak apa-apalah.

DALAM DIRIKU

dalam diriku mengalir sungai panjang,

darah namanya;

dalam diriku menggenang telaga darah,

sukma namanya;

dalam diriku meriak gelombang sukma,

hidup namanya!

dan karena hidup itu indah,

aku menangis sepuas-puasnya

– Sapardi Djoko Damono, 1980

Bro, entah berapa lama waktu telah membungkus kita dalam kepompongnya, masa itu aku juga lupa, diriku, atau dirimu yang pertama menyapa, yang jelas kita telah banyak belajar bersama, belajar mengurai makna yang berpendar dalam cahaya, belajar mengeja dunia dalam cinta dan kebijaksanaan-Nya, belajar bagaimana peliknya menjalani keseharian hidup, menyeimbangankan ego dan kesetiakawanan, belajar menjadi hamba yang tau bersyukur, bersyukur pada setiap garis takdir, nikmat, hidayah yang seringkali tidak kita sadari. Dan karena kita telah banyak belajar bersama, maka ijinkan aku seperti syairnya sheila on seven ”memegang pundakmu”, mungkin saja kau lelah, telah berjalan 23 tahun lamanya. Aku coba sambungkan nasehat orang yang selama ini sering kita kecewakan, karena kita tak jua menjadi pemuda yang dibanggakan. Barangkali bisa jadi penawar, di belantara, di kereta, atau di dalam kamarmu yang sempit itu.

TIGA PENGHANCUR DAN PENYELAMAT

Rosulullah saw bersabda; ”Ada tiga penghancur, tiga penyelamat, tiga penebus, dan tiga derajat.

Adapun tiga penghancur adalah:

Pertama, kekikiran yang ditaati

Kedua, hawa nafsu yang diikuti.

Ketiga, bangganya seseorang terhadap dirinya sendiri.

Tiga penyelamat adalah:

Pertama, adil dalam keadaan marah dan ridha.

Kedua, hemat ketika miskin dan kaya

Ketiga, takut kepada Allah ketika sendiri atau bersama.”

– (HR. Thabrani dan Abu Nu’aim, dihasankan oleh syekh Albani)

Bro, kau tau bahwa aku orang yang percaya terhadap kemanjuran do’a, mungkin kelak kau dapat mengambil bintang, kemudian membagi-bagikannya, atau menyimpan matahari dalam lacimu, kemudian menggunting jilatannya agar rapi, terserah kaulah, lahuu da’watul haqq (Qs:13;14), tapi jangan kuatir,kan ku amini.

Bro, yang terakhir, mungkin kau beri kesempatan kepadaku untuk berdo’a sebelum musim menanggalkan daun* maka resapilah partikel-partikel kecil yang sepi, namun berenergi sangat tinggi, melesat tak beraturan menembus masa depan. Aku begitu suka do’a ini, entah apa hajatnya maka akan aku bunyikan selalu:

Ya Allah, dengan Al-Qur’an, karuniakanlah kasih sayang-Mu kepada kami. Jadikan Al-Qur’an sebagai imam, cahaya, hidayah, dan sumber rahmat bagi kami. Ya Allah, ingatkan kami bila ada ayat yang kami lupa mengingat-nya. Ajarkan pada kami, ayat yang kami bodoh memahami-nya. Karuniakan kepada kami kenikmatan membacanya, sepanjang waktu, baik tengah malam atau tengah hari. Jadikan Al-Qur’an bagi kami sebagai hujjah, ya Robbal ’Alamin.

Ya Allah, anugrahkanlah untuk kami rasa takut kepadamu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepada-Mu. Janganlah Engkau jadikan musibah kami ada dalam urusan agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia ini adalah cita-cita terbesar dan puncak dari ilmu kami.

Ya Allah, jangan Engkau tinggalkan dosa, melainkan engkau ampuni, jangan berikan kesulitan melainkan Engkau berikan jalan keluarnya, jangan kau berikan hutang kecuali Engkau berikan kemampuan untuk membayarnya, dan jangan susupkan sebetikpun keinginan yang benar melainkan Engkau penuhi, ya Robbal ’Alamin. ”

”Tapi,

Yang fana adalah waktu, bukan?”

Tanyamu. Kita abadi

  • Sapadi Djoko Damono, 1978

* Sapardi DM.

Rumah Kaca, 9 Mei, 2008, 21:09

Read Full Post »

Sepi

 

Sepi itu adalah hati yang hilang kepingannya

Dibawa pemiliknya

Maka kosonglah ia

 

Rindu itu adalah sepi yang menginginkan riuhnya

Menyatu dalam jejak-jejaknya

 

13 Juni 2008

Read Full Post »